yang tepat dalam setiap respon yang berbeda Watson
(1979, dikutip dari Sartika, 2011). Caring
menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik, psikologis,
spiritual, dan sosial (Tomey &Alligood, 2006). Dalam memberikan asuhan,
perawat menggunakan kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan,
selalu berada disamping klien, semangat caring
harus tumbuh dalam diri setiap perawat dan berasal dari hati perawat yang
terdalam. Cooper (1999 dikutip dari Dwiyanti, 2010).
Perilaku caring sangat penting karena akan memberikan kepuasan pada klien
sehingga diharapkan setiap perawat memahami konsep caring dan mengaplikasikan dalam asuhan keperawatan. Selain itu
perilaku caring dapat mempengaruhi
kualitas layanan kesehatan dan kepuasan klien di rumah sakit, dimana kualitas
pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang dapat meningkatkan
kepuasan pasien dan mutu pelayanan (Saputri, 2010).
Berdasarkan
uraian diatas, mengingat tugas dan peran perawat yang sangat hakiki sendiri
maka penyusun makalah ingin mengetahui dan meneliti bagaimana perilaku caring yang diterapkan oleh perawat
profesi di RSUP Kariadi.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
1. Untuk
memenuhi tugas mata kuliah keperawatan holistik.
2. Untuk
mengetahui caring dan perilaku caring yang diterapkan oleh perawat
profesi di RSUP Kariadi.
3. Untuk
memberikan intervensi kepada penulis makalah tentang keprofesian keperawatan.
HASIL WAWANCARA
Wawancara yang dilakukan di RSUP Kariadi
dilakukan pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 sekitar pukul 13.22 di bagian klinik
TB-MRD. Wawancara pertama dilakukan dengan Ns. NQ, S.Kp. Ns. NQ, S.Kp. berusia
31 tahun dan bekerja menjadi perawat sudah sejak 10 tahun yang lalu. Beliau
memiliki pandangan bahwa perawat adalah pekerjaan yang selalu berhadapan dengan
orang-orang yang sedih, penuh masalah, dan segala macam keluhan dari pasien.
Selain itu perawat adalah profesi yang dekat dengan surga apabila dijalani dengan
ikhlas karena tindakan caring dan
asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien merupakan suatu tindakan yang
mulia.
Beliau sadar bahwa profesi perawat memang sering
dipandang masyarakat sebagai profesi pembantu dokter namun beliau menghiraukan
semua itu karena perawat adalah profesi yang dengan tindakan dan intervensi
yang diberikan dapat menyelamatkan nyawa-nyawa orang di dunia.
Saudara NQ adalah seorang alumni ners dari Universitas
Muhammadiyah Semarang pada tahun 2004 berpendapat bahwa caring adalah peduli terhadap orang lain, keluhan orang lain, dan
kebutuhan orang lain. Dalam memberikan perilaku caring tidak seutuhnya berjalan mulus karena pasien ataupun klien
yang dihadapi memiliki karakter yang berbeda-beda. Membangun sebuah kepercayaan
“trust” antara perawat dengan klien
adalah langkah pertama untuk menghadapi masalah dalam memberikan caring kepada pasien.
Selain itu hal yang tidak boleh dilupakan dari seorang
perawat adalah menjalin komunikasi dengan pasien. Misalnya memberi tahu tentang
perkembangan kondisi pasien, baik itu kondisi buruk maupun kondisi baik. Namun
penyampaian kondisi pasien tersebut harus memperhatikan kesiapan pasien untuk
menerima informasi tentang kondisi kesahatan yang sebenarnya. Apabila pasien
tersebut memiliki kondisi yang tidak memungkinkan untuk menerima kabar tentang
kondisinya maka sebaiknya informasi tersebut disampaikan kepada orang yang
bertanggung jawab kepada pasien tersebut misalnya, apabila pasien tersebut
anak-anak maka informasi tentang keadaannya di sampaikan kepada orang tuannya
begitupun sebaliknya. Jadi menurut Perawat NQ prinsip utama caring adalah memberikan tindakan
kepedulian, komunikasi dengan pasien, dan jujur atas keadaan pasien pada waktu
yang tepat.
Beliau menerapkan beberapa perilaku saat caring antara lain memberi edukasi
mengenai penyakit yang diderita pasien, memberikan motivasi kepada pasien
mengenai penyakitnya, dan tetap mengontrol kondisi pasien. Selain itu saat
Beliau sedang lelah dan emosi Beliau tidak akan memberikan tindakan caring namun mengalihkan tugasnya ke
perawat yang lain.
Perawat kelahiran Grobogan, 22 Juli 1982 ini selalu
berusaha untuk merespon keluhan pasien secara cepat. Dengan begitu sebagai
perawat akan merasa puas atas tindakan yang diberikan dan bisa mendapat feedback positif dari pasien. Beliau
mengaku hal terberat saat menjadi perawat adalah saat jaga malam. Karena saat
jaga malam, beliau harus lebih waspada atas hal apa yang mungkin terjadi.
Wawancara kedua dilaksanakan di ruang
TB-MRD RSUP Kariadi pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 pukul 13.42 bersama Ns. UP, S.Kp. Ns. UP,
S.Kp adalah seorang perawat profesi yang bekerja sejak satu setengah tahun yang
lalu. Passionnya di dunia kesehatan sejak duduk di bangku SD telah membawanya
pada profesi perawat. Profesi yang menurutnya sangat dibutuhkan orang dalam
tanda kutip orang yang dalam kondisi sakit, kesusahan, dan membutuhkan bantuan.
Prinsip dalam keperawatan menurutnya adalah caring.
Perawat alumni UGM ini mengungkapkan perilaku caring adalah mengenal pasien secara
menyeluruh. Ada beberapa tahap yang dilakukan saat caring. Yang pertama adalah tahap perkenalan dengan pasien, seorang
perawat bisa memberikan intervensi dan mengidentifikasi pasien. Selanjutnya
dari pengidentifikasian tersebut bisa menimbulkan jalinan komunikasi antara
pasien dengan perawat. Perawat juga merupakan mitra kerja dokter, selain
komunikasi dengan pasien juga membutuhkan komunikasi dengan tenaga kesehatan
lainnya, antara lain dokter, ahli gizi, dan lain-lain.
Perawat UP selalu menjalin mitra kerja yang baik
dengan tenaga-tenaga kesehatan lain yang bersangkutan. Misalnya dalam
menyampaikan hasil diagnosa merupakan kewenangan dokter maka hal tersebut akan
ia serahkan kepada dokter. Beliau juga akan menyerahkan dan membagi hasil
pemeriksaan ke ahli gizi dengan keperluan untuk mengatur asupan gizi pasien.
Prinsip caring
yang beliau terapkan selalu mengikuti paradigma keperawatan yang berkembang di
masyarakat. Prinsip yang saat ini Beliau terapkan adalah intervensi tindakan
keperawatan secara holistic care.
Tindakan holistic care yang diterapkan Ns. UP antara lain edukasi, konsultasi,
dan menghadirkan peran educator. Menghadirkan peran educator adalah
menghadirkan orang yang pernah menderita penyakit yang sama dengan pasien yang
sedang ditangani namun sudah sembuh sembuh, misalkan dalam bidangnya menghadirkan
pasien TB-MRD guna memotivasi pasien yang sedang mengidap penyakit TB-MRD.
Kenapa holistic care? Karena bagi
perawat asal jogja ini perawatan yang diberikan secara menyeluruh adalah
intervensi yang tepat. Selain itu menurutnya holistic care merupakan paradigma moderen yang lebih baik
diterapkan perawat masa kini.
Wawancara ketiga masih dilakukan di ruang
TB-MRD RSUP Kariadi pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 pukul 14.33 dilakukan
bersama Ns. T, S.Kp. yang sudah berprofesi sebagi perawat sejak tahun 1997.
Alasan utama beliau menjadi perawat karena kecintaannya Beliau sejak kecil
dengan profesi perawat. Sehingga hal tersebut membuatnya full heart di
pekerjaannya.
Beliau mengutarakan perilaku caring adalah peduli terhadap orang lain, memiliki rasa empati,
serta mau membantu seseorang dengan ikhlas. Prinsip caring yang diterapkan Ns. T yaitu memberikan aura-aura positif
kepada pasien supaya pasien lekas sembuh, seperti saat menghadapi pasien harus
dengan wajah yang gembira, dan tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang
sedang di hadapinya.
Baginya perawat adalah profesi yang sangat ia cintai.
Karena dari cinta yang ia bangun dalam dirinya membuatnya ikhlas dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Beliau pun juga sempat berpesan
kepada kami, kalau kami belum fullheart di keperawatan lebih baik tidak
dilanjutkan karena profesi perawat membutuhkan keikhlasan agar dapat memberikan
tindakan dan intervensi yang tepat dan cepat.
Perawat asal Surabaya ini selalu melakukan pendekatan
dengan pasien namun masih dengan menggunakan paradigma keperawatan jaman
Belanda, yaitu dengan memberikan ketegasan pada saat memberikan perilaku caring. Selain itu Beliau selalu
melakukan komunikasi dengan pasien supaya pasien bisa memberikan kepercayaannya
kepada perawat
PEMBAHASAN
Menurut Potter & Perry (2005), sebuah
keahlian yang dimiliki untuk mengabdi kepada orang lain dengan menunjukkan rasa
perhatian dan peduli dikenal dengan istilah caring.
Hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Ns. NQ, S.Kp. bahwa caring adalah peduli terhadap orang
lain, keluhan orang lain, dan kebutuhan orang lain. Perawat NQ melakukan
intervensi dan tindakan dengan ikhlas sebagai wujud dedikasi Beliau. Selain
itu, caring mempengaruhi cara
berpikir seseorang, perasaan dan perbuatan seseorang. Caring juga mempelajari berbagai macam filosofi dan etis
perspektif.
Sedangkan menurut Sartika & Nanda (2011), caring diartikan sebagai perilaku yang
dilakukan perawat dengan pendekatan dinamis untuk meningkatkan tingkat caritas
kepada klien yang merupakan pusat pada praktik keperawatan. Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang
penting terutama dalam praktik keperawatan.
Perawat NQ mengungkapkan bentuk kepedulian dengan
berbagai macam cara, salah satunya adalah pendekatan yang dinamis.
Pendekatan-pendekatan dinamis itu antara lain membangun komunikasi dengan
pasien agar pasien bisa percaya akan asuhan keperawatan yang diberikannya.
Motivasi, edukasi, dan kontrol juga senantiasa perawat NQ berikan sebagai upaya
perilaku caring yang diberikannya
bagi pasien-pasien di klinik TB-MRD. Perilaku caring yang juga menjadi perhatiannya adalah merespon keluhan
pasien secara cepat.
Hal yang sama juga diberikan oleh Ns. UP, S.Kp.
sebagai narasumber kedua terkait caring.
Pendekatan-pendekatan dinamis yang Beliau lakukan antara lain:
1. Memberikan
intervensi dan mengidentifikasi pasien
2. Menjalin
komunikasi dengan pasien
3. Menjalin
mitra kerja yang baik dengan dokter, ahli gizi, dan staff ahli kesehatan
lainnya.
Teori Transpersonal Watson tentang caring (1979)
sebagai model holistic keperawatan yang menyebutkan bahwa tujuan caring adalah untuk mendukung proses
penyembuhan secara total (Hoover, 2002). Teori menggambarkan suatu kesadaran
perawat untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan menjadi perawat, sakit dan
caring, serta pulih. Teori caring transpersonal menolak pelayanan kesehatan dan
tempat pelayanan yang berorientasi penyakit sebelum diobati (Watson, 1988).
Teori Transpersonal Watson tentang caring diterapkan
pula oleh perawat UP. Perawat asal Jogja menerapkan caring dengan asuhan keperawatan yang holistic atau menyeluruh.
Tindakan yang dilakukannya untuk tetap bisa memberikan asuhan keperawatan
secara menyeluruh antara lain edukasi, motivasi, konsultasi, dan menghadirkan
peran educator. Dengan begitu Ns. Utami tidak hanya mengobati pasien dalam hal
penyakitnya saja khususnya bagi pasien yang ada di kliniknya yaitu klinik TB-MRD.
Beliau yakin bahwa orang-orang yang mengidap penyakit TB-MRD tidak hanya
membutuhkan pengobatan untuk aspek biologisnya saja, tetapi juga aspek
psikologi, spiritual, dan kultural.
Aplikasi Model Caring Watson di ungkapkan dalam
beberapa cara antara lain:
1.
Melatih rasa cinta dan
kepedulian
2.
Menciptakan
kepercayaan-harapan
3.
Meningktakan rasa
sensitive terhadap diri sendiri dan sesame
4.
Membangun
pertolongankepercayaan, hubungan manusia
5.
Mengungkapkan perasaan
positif dan negative
6.
Menggunakan proses caring
yang kreatif dalam penyelesaian masalah
7.
Mempromosikan
transpersonal belajar-mengajar
8.
Mengutamakan aspek
spiritual dan keyakinan utuk penyembuhan
9.
Menyediakan caring
berdasarkan kebutuhan dasar manusia
10. Menciptakan
lingkungan yang menyembuhkan (terapeutik).
Beberapa hal di atas juga diterapkan oleh Ns. T
seperti dengan memberikan aura-aura positif kepada pasien supaya pasien lekas
sembuh, seperti saat menghadapi pasien harus dengan wajah yang gembira, terus
tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang sedang di hadapinya. Beliau juga
memberikan beberapa aspek saat caring namun dengan paradigma yang berbeda
dengan perawat lainnya. Ns. T lebih memilih menggunakan paradigma keperawatan
jaman Belanda.
Ada beberapa definisi caring yang diungkapkan para ahli keperawatan: Watson (1979) yang
terkenal dengan Theory of Human Caring,
mempertegas bahwa caring sebagai
jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan
untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian
mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh.
Kesanggupan pasien untuk sembuh menurut ketiga perawat
ners yang kita wawancara adalah selain sehat jasmani, pasien juga harus sehat
rohani atau psikologinya melalui perilaku caring yang di berikan perawat kepada
pasien. Sehingga jika pasien sering mendapat stimulus yang positf maka proses
penyembuhan akan berjalan lancar dan cepat, tapi jika stimulus negatif yang
diterima maka akan menghambat penyembuhan. Hal ini dapat diperoleh melalui komunikasi antara perawat dan pasien.
PENUTUP
Dari pembahasan di
atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Caring
adalah peduli terhadap orang lain, keluhan orang lain, dan kebutuhan orang
lain, sebagaimana peduli dan perhatian juga dilakukan oleh ketiga perawat
profesi pada saat memberikan asuhan keperawatan di klinik TB-MRD RSUP Kariadi.
2. Caring
merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan, seperti
apa yang diungkapkan oleh Ns. UP, S.Kp.
3. Pendekatan-pendekatan
dinamis seperti identifikasi, edukasi, dan motivasi dilakukan oleh ketiga
perawat profesi di klinik TB-MRD RSUP Kariadi dalam rangka memberikan
intervensi dan tindakan keperawatan berbasis caring.
4. Tindakan
caring yang dilakukan perawat profesi di klinik TB-MRD RSUP Kariadi untuk tetap
bisa memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh antara lain edukasi,
motivasi, konsultasi, dan menghadirkan peran educator.
5. Melalui
perilaku caring yang diberikan perawat dengan disertai stimulus-stimulus
positif seperti menyapa pasien dengan namanya, memberikan senyuman saat caring,
dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.
Dalam penyusunan kurikulum pendidikan perawatan
seyogyanya memasukkan unsur caring
dalam setiap mata kuliah. Penekanan pada humansitik, kepedulian, dan
kepercayaan, komitmen membantu orang lain dan berbagai unsur caring yang lain harus sudah dibangun
sejak perawat dalam masa pendidikan. Selain itu perlu dilakukan sosialisasi
konsep caring pada perawat guna
memberikan pemahaman yang mendalam tentang apa yang harus dilakukan perawat
agar bersikap caring dalam setiap
kontak dengan pasien. Indikator-indikator caring
harus dikenal dan diaplikasikan dalam perawatan serta dievaluasi secara terus
meneru
Perawat 1
Kelompok 6 :
AsalamualaikumWr. Wb
Ns.NQ,s.Kp :
WaalaikumsalamWr.Wb. Ada yang bias saya bantu ?
Kelompok
6 : Begini pak, kami dapat tugas dari
dosen untuk mewancarai 3 Ners
tentang
caring, apakah bapak bisa membantu ?
Ns.NQ
,s.Kp : oh.... bisa dik dengan senang hati, tolong
tunggu saya di ruang tamu ? ruang tamunya ada di sana (sambil menunjuk keruang
tamu)
Kelompok 6 :
iya pak kami tunggu
Beberapa menit kemudian
Ns.NQ,s.Kp :maaf
ya dik saya lama, mau wawancara bagaimana dik ?
Kelompok
6 :Begini Pak, sebelumnya saya ingin
berkenalan dengan bapak, nama bapak siapa ya ?
Ns.NQ,s.Kp :
Nama saya N Q
Kelompok 6 :Bapak
bekerja di rumah sakit ini sudah berapa lama ?
Ns.NQ,s.Kp :Kurang
lebih sepuluh tahun
Kelompok 6 : menurut bapak apa itu keperawatan ?
Ns.NQ,s.Kp : Menurut saya Keperawatan itu merupakan
pekerjaan mulia yang dekatdengan surga karena perawat yang di hadap ia dalah
orang-orang yang sakit,susah dan sedih jadi apabila perawatnya melayani dengan
ikhlas saya yakin hadiah yang tepat adalah surga
Kelompok 6 :menurut
bapak apa itu caring ?
Ns.NQ,s.Kp :menurut saya caring adalah peduli terhadap masalah pasien, peduli terhadap
kebutuhan pasien,dan peduli terhadap keluhan pasien.
Kelompok
6 :Bagaimana cara bapak menghadapi
karakter pasien yang berbeda-beda dalam menerima saran dari seorang perawat ?
Ns.NQ,s.Kp :dengan menjalin trust (kepercayaan) pada pasien sehingga pasien mau mengungkapkan
segala masalah yang sedang di hadapinya
Kelompok
6 :Bagaimana cara menyikapi citra
perawat yang di anggap sebagai pembantu dokter oleh masyarakat ?
Ns.NQ,s.Kp :saya tidak memikirkan anggapan masyarakat
tentang perawat, tetapi yang saya pikirkan adalah bagaimana cara melayani
pasien dengan baik, seandainya masyarakat tahu bahwa ketika mereka menginap di
rumah sakit yang di butuhkan adalah caring
bukan curing dari seorang
dokter.bahwa jika tidak ada perawat maka tidak akan ada pelayanan perawatan di
masyarakat.
Kelompok
6 :Apakah tantangan terbesar menjadi
perawat ?
Ns.NQ,s.Kp :Tantangan
terbesar menjadi perawat adalah belajar ikhlas, menstabilkan atau menjaga mutu
pada seluruh pasien yang ada dan cara menginformasikan berita buruk pada
pasien. Melayani pasien, terkadang terasa berat walaupun itu merupakan bagian
dari profesi perawat, seperti di bangunkan pada saat tengah malam ,memandikan
pasien, membuang urine dari pasien dan lain-lain.
Kelompok
6 : Bagaimana menanggapi citra perawat
yang dianggap perawat galak atau judes?
Ns.NQ,s.Kp :Citra seorang perawat di mata masyarakat
itu buruk.Ini berawal dari perawat yang judes dan galak itu paradigma perawat
yang dulu dari didikan dari jaman Belanda, yang di didik keras sehingga Mind
set masyarakat harus di ubah. Meraka yang bilang perawat judes itu mereka yang
belum merasakan perawatan itu sendiri atau mungkin mereka mendapatkan perlakuan
dari perawat yang judes itu yang menyebabkan Citra perawat di mata masyarakat
buruk.
Kelompok 6 :
Bagaimana cara menerapkan holistik dalam keperawatan ?
Ns.NQ,s.Kp :Yang jelas setiap keluhan yang di respons
dengan cepat maka akan menimbulkan
persepsi yang baik terhadap pasien tersebut kemudian kita menerima keluhan
pasien, mengerti yang pasien lakukan, yang jadi masalah adalah kebutuhan
pasien, pasien butuh sesuatu tidak respons malah di marahi gitu sehingga
menimbulkan persepsi di masyarakat itu
perawat judes malaya kita merubah apapun yang diminta pasien kita berusaha
memenuhi sepanjang itu tidak mengganggu kesehatan pasien.
Kelompok 6 :
cara memotivasi pasien yang down ?
Ns.NQ,s.Kp : pasien dikatakan dia down jika dia tidak
mengetahui penyakitnya itu sendiri, jika dia tidak tahu penyakitnya maka yang
dipikirkanya adalah penyakit kronis,menakutkan bahkan mengancam nyawa.sehinga
dia down yang kita lakukan kita gali pengetahuan pasien tentang
penyakitnya.setelah kita gali kita sampaikan informasi tentang penyakitnya
setelah tahu penyakitnya kita beri edukasi tentang penyakitnya sehingga pasien
tidak berpasrah diri.
Kelompok 6 :Bagaimana
cara perawat menyampaikan berita buruk kepada pasien ?
Ns.NQ,s.Kp :jika pasien belum siap dengan mendengar
berita buruk maka bias diwakilkan melalui penanggung jawab pasien yaitu
keluarga, Kalau sudah siap maka informasi dapat di sampaika secara langsung.
Kelompok 6 :Terima
kasih pak atas waktu yang di berikan untuk wawancara ini.
Ns.NQ,s.Kp :
Sama-sama
Perawat 2
Kelompok
6 : sebelum wawancara kami ingin
berkenalan dengan mbak ,namanya siapa mbak?
Ns.U P,S.Kp :
perkenalkan nama saya UP, saya bekerja disini baru 1,5 tahun .
Kelompok 6 :Apa
motivasi mbak menjadi seorang perawat ?
Ns.U
P,S.Kp : Termotivasi dari pekerjaan
rumah sakit dan dari kecil saya sudah banyak berhubugan dengan sesuatu yang
bebau kesehatan entah itu rumah sakit,puskesmas,dll, sebenernya dulu saya tidak
berminat untuk menjadi perawat tapi setelah bertemu pasien,memberi rasa empati
dan care terhadap pasien lama –lama saya suka menjadi perawat.
Kelompok 6 :menurut
pandangan mbak perawat itu seperti apa ?
Ns.U P,S.Kp :profesi
yang menurut saya sangat dibutuhkan oleh para pasien .
Kelompok 6 :
Menurut mbak apa itu caring ?
Ns.U
P,S.Kp : caring ittuu…. Mengenal pasien ,mengenal sakitnya ,mengenal
kebutuhan,berupa empati dan memenuhi keseluruhan kebutuhan pasien .
Kelompok 6 :oh
begitu,mbak prinsip caring itu
seperti apa ya ?
Ns.U
P,S.Kp : prinsip
caring itu memahami pasien dari
keseluruhan dan menemukan masalah setiap pasien .
Kelompok 6 :apa
hambatan mbak selama menjadi perawat?
Ns.U P,S.Kp :ya
itu pasieen yang ngeyel .
Kelompok
6 : Bagaimana mbak menyikapi pasien itu
agar tidak ngeyel terhadap perawatan yang diberikan?
Ns.U
P,S.Kp : pasien terlebih dahulu diberi edukasi
dan diberi informasi tentang penyakitnya .
Kelompok
6 :Bagaimana mbak menyikapi saat sedang
capek tapi harus memberi caring ?
Ns.U
P,S.Kp : saya mecoba memotivasi diri dan
menanggap pasien sebagai saudara.
Kelompok 6 :apa
keputusan mbak yang paling berat saat melakukan caring ?
Ns.U P,S.Kp :
saat tidak ada atasan yang dapat menentukan keputusannya
Kelompok
6 :terus mbak mengambil keputusannya
gimana saat tidak ada atasan ?
Ns.U
P,S.Kp :ya saya mendiskusikan dengan
sesama teman untuk mengambil keputusan .
Kelompok 6 :terimakasih
ya mbak atas waktunya ^_^.
Ns.U P,S.Kp :iya
dek sama-sama ^_^
Perawat 3
Ns.T,S.Kp :” Bagaimana dek? Mau wawancara apa?”
Kelompok
6
: “Begini bu kami ingin mewawancarai tentang caring . Bagaimana caring
menurut ibu ?”
Ns.T,S.Kp
: “caring
itu sebuah kepedulian terhadap orang lain, memiliki rasa empati, serta mau membantu seseorang dengan ikhlas. “
Kelompok
6 : “menurut ibu apa itu yang
dimaksud prinsip caring ?”
Ns.T,S.Kp
MAKALAH KEPERAWATAN HOLISTIK
WAWANCARA 3 PERAWAT PROFESI
“PERILAKU CARING”
Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Keperawatan
Holistik
Dosen Pembimbing: Ns. Sarah Ulliya
Disusun
oleh:
1. Arintan
Nur Safitri (22020114120046)
2. Avinda
Deviana (22020114120028)
3. Eva
Handayani (22020114130071)
4. Fajar
Sigit Prihantoro (22020114120068)
5. Khirza
Maulida Fitri (22020114130134)
6. Pramastuti
Budi Yuanti (22020114130072)
FAKULTAS
KEDOKTERAN
JURUSAN
KEPERAWATAN
UNIVERSITAS
DIPONEGORO
2014
Pujisyukurpenulisucapkankehadirat
TuhanYang Maha Esa Karena hanya atas berkat dan rahmat yang dilimpahkan-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah yang diberikan oleh dosen pembimbing mata
kuliah Keperawatan Holistik. Sebagai wujud dari pengabdian kami kepada Tuhan
Yang Maha Esa sekaligus bentuk realisasi dari tanggung jawab dan kewajiban kami
selama mengikuti mata kuliah ini. Makalah yang berjudul WAWANCARA 3 PERAWAT PROFESI “PERILAKU CARING” berisi materi pembahasan
yang memaparkan tentang perilaku caring
yang diterapkan oleh 3 perawat profesi dan bagaimana kaitannya dengan
teori-teori caring yang ada. Sehingga
makalah dapat digunakan untuk penyajian diskusi dan/atau untuk keperluan
lainnya.
Oleh
karena itu, dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari sepenuhnya masih
banyak kekurangan yang jauh dari sempurna dan penulis berharapa dan ya kritik
dan saran dari semua pihak yang nantinya di pergunakan untuk meyempurnakan
makalah ini.
Selama
penyusunan makalah, penulis telah banyak memperoleh bantuan, bimbingan dan
dorongan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih pada:
1. Ibu
Sarah Ulliya, selaku Dosen pembimbing mata kuliah keperawatan holistik yang
telah memberikan bimbingan dan petunjuk yang berguna dalam penyusunan makalah ini.
2. Semua
pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam penyusunan makalah ini.
Semarang,
8 Oktober 2014
Penyusun
PENDAHULUAN
Caring
merupakan proses interpersonal yaitu hubungan yang terjadi antara perawat
dengan klien yang merupakan bagian dari intervensi yang membantu dalam
pemenuhan kebutuhan manusia dalam meningkatkan kesehatan, mengembalikan klien
pada kondisi sehat dan mencegah kesakitan (Watson 1979, dikutip dari Potter
& Perry, 2005).
Caring
merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan.
Leinenger (1984) menyatakan care
berasal dari dalam hati dan utama dalam keperawatan yang dimanifestasikan
melalui caring yang merupakan ciri
yang dominan, khusus, serta tidak terpisahkan dalam keperawatan. Leinenger mengatakan, tidak ada cure tanpa caring, tapi dapat ada caring tanpa curing. Ia menekankan bahwa human
caring merupakan fenomena yang universal, memiliki ekspresi, proses dan
pola yang berbeda antar budaya (Synder, 2011).
Konsep caring
pun mengalami perkembangan yang pesat. Beberapa tokoh keperawatan seperti
Watson (1979), Leininger (1984), Benner (1989), menempatkan caring sebagai
dasar dalam praktek keperawatan, jika perawat sebagai suatu kelompok profesi
yang bekerja selama 24 jam di rumah sakit lebih menekankan caring sebagai pusat
dan aspek yang dominan maka perawat dapat membantu pasien meningkatan kesehatan
dan pencegahan penyakit dengan memandang klien secara komprehensif (Potter
& Perry, 2005).
Caring
juga menekankan harga diri individu, artinya dalam melakukan praktik
keperawatan, perawat senantiasa selalu menghargai klien dengan menerima
kelebihan maupun kekurangan klien. Watson juga mengemukakan bahwa respon setiap
individu terhadap suatu masalah kesehatan unik, artinya perawat harus mampu
memahami setiap respon yang berbeda dari klien terhadap penderitaan yang
dialaminya dan memberikan pelayanan kesehatan
yang tepat dalam setiap respon yang berbeda Watson
(1979, dikutip dari Sartika, 2011). Caring
menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik, psikologis,
spiritual, dan sosial (Tomey &Alligood, 2006). Dalam memberikan asuhan,
perawat menggunakan kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan,
selalu berada disamping klien, semangat caring
harus tumbuh dalam diri setiap perawat dan berasal dari hati perawat yang
terdalam. Cooper (1999 dikutip dari Dwiyanti, 2010).
Perilaku caring sangat penting karena akan memberikan kepuasan pada klien
sehingga diharapkan setiap perawat memahami konsep caring dan mengaplikasikan dalam asuhan keperawatan. Selain itu
perilaku caring dapat mempengaruhi
kualitas layanan kesehatan dan kepuasan klien di rumah sakit, dimana kualitas
pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang dapat meningkatkan
kepuasan pasien dan mutu pelayanan (Saputri, 2010).
Berdasarkan
uraian diatas, mengingat tugas dan peran perawat yang sangat hakiki sendiri
maka penyusun makalah ingin mengetahui dan meneliti bagaimana perilaku caring yang diterapkan oleh perawat
profesi di RSUP Kariadi.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
1. Untuk
memenuhi tugas mata kuliah keperawatan holistik.
2. Untuk
mengetahui caring dan perilaku caring yang diterapkan oleh perawat
profesi di RSUP Kariadi.
3. Untuk
memberikan intervensi kepada penulis makalah tentang keprofesian keperawatan.
HASIL WAWANCARA
Wawancara yang dilakukan di RSUP Kariadi
dilakukan pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 sekitar pukul 13.22 di bagian klinik
TB-MRD. Wawancara pertama dilakukan dengan Ns. NQ, S.Kp. Ns. NQ, S.Kp. berusia
31 tahun dan bekerja menjadi perawat sudah sejak 10 tahun yang lalu. Beliau
memiliki pandangan bahwa perawat adalah pekerjaan yang selalu berhadapan dengan
orang-orang yang sedih, penuh masalah, dan segala macam keluhan dari pasien.
Selain itu perawat adalah profesi yang dekat dengan surga apabila dijalani dengan
ikhlas karena tindakan caring dan
asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien merupakan suatu tindakan yang
mulia.
Beliau sadar bahwa profesi perawat memang sering
dipandang masyarakat sebagai profesi pembantu dokter namun beliau menghiraukan
semua itu karena perawat adalah profesi yang dengan tindakan dan intervensi
yang diberikan dapat menyelamatkan nyawa-nyawa orang di dunia.
Saudara NQ adalah seorang alumni ners dari Universitas
Muhammadiyah Semarang pada tahun 2004 berpendapat bahwa caring adalah peduli terhadap orang lain, keluhan orang lain, dan
kebutuhan orang lain. Dalam memberikan perilaku caring tidak seutuhnya berjalan mulus karena pasien ataupun klien
yang dihadapi memiliki karakter yang berbeda-beda. Membangun sebuah kepercayaan
“trust” antara perawat dengan klien
adalah langkah pertama untuk menghadapi masalah dalam memberikan caring kepada pasien.
Selain itu hal yang tidak boleh dilupakan dari seorang
perawat adalah menjalin komunikasi dengan pasien. Misalnya memberi tahu tentang
perkembangan kondisi pasien, baik itu kondisi buruk maupun kondisi baik. Namun
penyampaian kondisi pasien tersebut harus memperhatikan kesiapan pasien untuk
menerima informasi tentang kondisi kesahatan yang sebenarnya. Apabila pasien
tersebut memiliki kondisi yang tidak memungkinkan untuk menerima kabar tentang
kondisinya maka sebaiknya informasi tersebut disampaikan kepada orang yang
bertanggung jawab kepada pasien tersebut misalnya, apabila pasien tersebut
anak-anak maka informasi tentang keadaannya di sampaikan kepada orang tuannya
begitupun sebaliknya. Jadi menurut Perawat NQ prinsip utama caring adalah memberikan tindakan
kepedulian, komunikasi dengan pasien, dan jujur atas keadaan pasien pada waktu
yang tepat.
Beliau menerapkan beberapa perilaku saat caring antara lain memberi edukasi
mengenai penyakit yang diderita pasien, memberikan motivasi kepada pasien
mengenai penyakitnya, dan tetap mengontrol kondisi pasien. Selain itu saat
Beliau sedang lelah dan emosi Beliau tidak akan memberikan tindakan caring namun mengalihkan tugasnya ke
perawat yang lain.
Perawat kelahiran Grobogan, 22 Juli 1982 ini selalu
berusaha untuk merespon keluhan pasien secara cepat. Dengan begitu sebagai
perawat akan merasa puas atas tindakan yang diberikan dan bisa mendapat feedback positif dari pasien. Beliau
mengaku hal terberat saat menjadi perawat adalah saat jaga malam. Karena saat
jaga malam, beliau harus lebih waspada atas hal apa yang mungkin terjadi.
Wawancara kedua dilaksanakan di ruang
TB-MRD RSUP Kariadi pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 pukul 13.42 bersama Ns. UP, S.Kp. Ns. UP,
S.Kp adalah seorang perawat profesi yang bekerja sejak satu setengah tahun yang
lalu. Passionnya di dunia kesehatan sejak duduk di bangku SD telah membawanya
pada profesi perawat. Profesi yang menurutnya sangat dibutuhkan orang dalam
tanda kutip orang yang dalam kondisi sakit, kesusahan, dan membutuhkan bantuan.
Prinsip dalam keperawatan menurutnya adalah caring.
Perawat alumni UGM ini mengungkapkan perilaku caring adalah mengenal pasien secara
menyeluruh. Ada beberapa tahap yang dilakukan saat caring. Yang pertama adalah tahap perkenalan dengan pasien, seorang
perawat bisa memberikan intervensi dan mengidentifikasi pasien. Selanjutnya
dari pengidentifikasian tersebut bisa menimbulkan jalinan komunikasi antara
pasien dengan perawat. Perawat juga merupakan mitra kerja dokter, selain
komunikasi dengan pasien juga membutuhkan komunikasi dengan tenaga kesehatan
lainnya, antara lain dokter, ahli gizi, dan lain-lain.
Perawat UP selalu menjalin mitra kerja yang baik
dengan tenaga-tenaga kesehatan lain yang bersangkutan. Misalnya dalam
menyampaikan hasil diagnosa merupakan kewenangan dokter maka hal tersebut akan
ia serahkan kepada dokter. Beliau juga akan menyerahkan dan membagi hasil
pemeriksaan ke ahli gizi dengan keperluan untuk mengatur asupan gizi pasien.
Prinsip caring
yang beliau terapkan selalu mengikuti paradigma keperawatan yang berkembang di
masyarakat. Prinsip yang saat ini Beliau terapkan adalah intervensi tindakan
keperawatan secara holistic care.
Tindakan holistic care yang diterapkan Ns. UP antara lain edukasi, konsultasi,
dan menghadirkan peran educator. Menghadirkan peran educator adalah
menghadirkan orang yang pernah menderita penyakit yang sama dengan pasien yang
sedang ditangani namun sudah sembuh sembuh, misalkan dalam bidangnya menghadirkan
pasien TB-MRD guna memotivasi pasien yang sedang mengidap penyakit TB-MRD.
Kenapa holistic care? Karena bagi
perawat asal jogja ini perawatan yang diberikan secara menyeluruh adalah
intervensi yang tepat. Selain itu menurutnya holistic care merupakan paradigma moderen yang lebih baik
diterapkan perawat masa kini.
Wawancara ketiga masih dilakukan di ruang
TB-MRD RSUP Kariadi pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 pukul 14.33 dilakukan
bersama Ns. T, S.Kp. yang sudah berprofesi sebagi perawat sejak tahun 1997.
Alasan utama beliau menjadi perawat karena kecintaannya Beliau sejak kecil
dengan profesi perawat. Sehingga hal tersebut membuatnya full heart di
pekerjaannya.
Beliau mengutarakan perilaku caring adalah peduli terhadap orang lain, memiliki rasa empati,
serta mau membantu seseorang dengan ikhlas. Prinsip caring yang diterapkan Ns. T yaitu memberikan aura-aura positif
kepada pasien supaya pasien lekas sembuh, seperti saat menghadapi pasien harus
dengan wajah yang gembira, dan tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang
sedang di hadapinya.
Baginya perawat adalah profesi yang sangat ia cintai.
Karena dari cinta yang ia bangun dalam dirinya membuatnya ikhlas dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Beliau pun juga sempat berpesan
kepada kami, kalau kami belum fullheart di keperawatan lebih baik tidak
dilanjutkan karena profesi perawat membutuhkan keikhlasan agar dapat memberikan
tindakan dan intervensi yang tepat dan cepat.
Perawat asal Surabaya ini selalu melakukan pendekatan
dengan pasien namun masih dengan menggunakan paradigma keperawatan jaman
Belanda, yaitu dengan memberikan ketegasan pada saat memberikan perilaku caring. Selain itu Beliau selalu
melakukan komunikasi dengan pasien supaya pasien bisa memberikan kepercayaannya
kepada perawat
PEMBAHASAN
Menurut Potter & Perry (2005), sebuah
keahlian yang dimiliki untuk mengabdi kepada orang lain dengan menunjukkan rasa
perhatian dan peduli dikenal dengan istilah caring.
Hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Ns. NQ, S.Kp. bahwa caring adalah peduli terhadap orang
lain, keluhan orang lain, dan kebutuhan orang lain. Perawat NQ melakukan
intervensi dan tindakan dengan ikhlas sebagai wujud dedikasi Beliau. Selain
itu, caring mempengaruhi cara
berpikir seseorang, perasaan dan perbuatan seseorang. Caring juga mempelajari berbagai macam filosofi dan etis
perspektif.
Sedangkan menurut Sartika & Nanda (2011), caring diartikan sebagai perilaku yang
dilakukan perawat dengan pendekatan dinamis untuk meningkatkan tingkat caritas
kepada klien yang merupakan pusat pada praktik keperawatan. Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang
penting terutama dalam praktik keperawatan.
Perawat NQ mengungkapkan bentuk kepedulian dengan
berbagai macam cara, salah satunya adalah pendekatan yang dinamis.
Pendekatan-pendekatan dinamis itu antara lain membangun komunikasi dengan
pasien agar pasien bisa percaya akan asuhan keperawatan yang diberikannya.
Motivasi, edukasi, dan kontrol juga senantiasa perawat NQ berikan sebagai upaya
perilaku caring yang diberikannya
bagi pasien-pasien di klinik TB-MRD. Perilaku caring yang juga menjadi perhatiannya adalah merespon keluhan
pasien secara cepat.
Hal yang sama juga diberikan oleh Ns. UP, S.Kp.
sebagai narasumber kedua terkait caring.
Pendekatan-pendekatan dinamis yang Beliau lakukan antara lain:
1. Memberikan
intervensi dan mengidentifikasi pasien
2. Menjalin
komunikasi dengan pasien
3. Menjalin
mitra kerja yang baik dengan dokter, ahli gizi, dan staff ahli kesehatan
lainnya.
Teori Transpersonal Watson tentang caring (1979)
sebagai model holistic keperawatan yang menyebutkan bahwa tujuan caring adalah untuk mendukung proses
penyembuhan secara total (Hoover, 2002). Teori menggambarkan suatu kesadaran
perawat untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan menjadi perawat, sakit dan
caring, serta pulih. Teori caring transpersonal menolak pelayanan kesehatan dan
tempat pelayanan yang berorientasi penyakit sebelum diobati (Watson, 1988).
Teori Transpersonal Watson tentang caring diterapkan
pula oleh perawat UP. Perawat asal Jogja menerapkan caring dengan asuhan keperawatan yang holistic atau menyeluruh.
Tindakan yang dilakukannya untuk tetap bisa memberikan asuhan keperawatan
secara menyeluruh antara lain edukasi, motivasi, konsultasi, dan menghadirkan
peran educator. Dengan begitu Ns. Utami tidak hanya mengobati pasien dalam hal
penyakitnya saja khususnya bagi pasien yang ada di kliniknya yaitu klinik TB-MRD.
Beliau yakin bahwa orang-orang yang mengidap penyakit TB-MRD tidak hanya
membutuhkan pengobatan untuk aspek biologisnya saja, tetapi juga aspek
psikologi, spiritual, dan kultural.
Aplikasi Model Caring Watson di ungkapkan dalam
beberapa cara antara lain:
1.
Melatih rasa cinta dan
kepedulian
2.
Menciptakan
kepercayaan-harapan
3.
Meningktakan rasa
sensitive terhadap diri sendiri dan sesame
4.
Membangun
pertolongankepercayaan, hubungan manusia
5.
Mengungkapkan perasaan
positif dan negative
6.
Menggunakan proses caring
yang kreatif dalam penyelesaian masalah
7.
Mempromosikan
transpersonal belajar-mengajar
8.
Mengutamakan aspek
spiritual dan keyakinan utuk penyembuhan
9.
Menyediakan caring
berdasarkan kebutuhan dasar manusia
10. Menciptakan
lingkungan yang menyembuhkan (terapeutik).
Beberapa hal di atas juga diterapkan oleh Ns. T
seperti dengan memberikan aura-aura positif kepada pasien supaya pasien lekas
sembuh, seperti saat menghadapi pasien harus dengan wajah yang gembira, terus
tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang sedang di hadapinya. Beliau juga
memberikan beberapa aspek saat caring namun dengan paradigma yang berbeda
dengan perawat lainnya. Ns. T lebih memilih menggunakan paradigma keperawatan
jaman Belanda.
Ada beberapa definisi caring yang diungkapkan para ahli keperawatan: Watson (1979) yang
terkenal dengan Theory of Human Caring,
mempertegas bahwa caring sebagai
jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan
untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian
mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh.
Kesanggupan pasien untuk sembuh menurut ketiga perawat
ners yang kita wawancara adalah selain sehat jasmani, pasien juga harus sehat
rohani atau psikologinya melalui perilaku caring yang di berikan perawat kepada
pasien. Sehingga jika pasien sering mendapat stimulus yang positf maka proses
penyembuhan akan berjalan lancar dan cepat, tapi jika stimulus negatif yang
diterima maka akan menghambat penyembuhan. Hal ini dapat diperoleh melalui komunikasi antara perawat dan pasien.
PENUTUP
Dari pembahasan di
atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Caring
adalah peduli terhadap orang lain, keluhan orang lain, dan kebutuhan orang
lain, sebagaimana peduli dan perhatian juga dilakukan oleh ketiga perawat
profesi pada saat memberikan asuhan keperawatan di klinik TB-MRD RSUP Kariadi.
2. Caring
merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan, seperti
apa yang diungkapkan oleh Ns. UP, S.Kp.
3. Pendekatan-pendekatan
dinamis seperti identifikasi, edukasi, dan motivasi dilakukan oleh ketiga
perawat profesi di klinik TB-MRD RSUP Kariadi dalam rangka memberikan
intervensi dan tindakan keperawatan berbasis caring.
4. Tindakan
caring yang dilakukan perawat profesi di klinik TB-MRD RSUP Kariadi untuk tetap
bisa memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh antara lain edukasi,
motivasi, konsultasi, dan menghadirkan peran educator.
5. Melalui
perilaku caring yang diberikan perawat dengan disertai stimulus-stimulus
positif seperti menyapa pasien dengan namanya, memberikan senyuman saat caring,
dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.
Dalam penyusunan kurikulum pendidikan perawatan
seyogyanya memasukkan unsur caring
dalam setiap mata kuliah. Penekanan pada humansitik, kepedulian, dan
kepercayaan, komitmen membantu orang lain dan berbagai unsur caring yang lain harus sudah dibangun
sejak perawat dalam masa pendidikan. Selain itu perlu dilakukan sosialisasi
konsep caring pada perawat guna
memberikan pemahaman yang mendalam tentang apa yang harus dilakukan perawat
agar bersikap caring dalam setiap
kontak dengan pasien. Indikator-indikator caring
harus dikenal dan diaplikasikan dalam perawatan serta dievaluasi secara terus
meneru
Perawat 1
Kelompok 6 :
AsalamualaikumWr. Wb
Ns.NQ,s.Kp :
WaalaikumsalamWr.Wb. Ada yang bias saya bantu ?
Kelompok
6 : Begini pak, kami dapat tugas dari
dosen untuk mewancarai 3 Ners
tentang
caring, apakah bapak bisa membantu ?
Ns.NQ
,s.Kp : oh.... bisa dik dengan senang hati, tolong
tunggu saya di ruang tamu ? ruang tamunya ada di sana (sambil menunjuk keruang
tamu)
Kelompok 6 :
iya pak kami tunggu
Beberapa menit kemudian
Ns.NQ,s.Kp :maaf
ya dik saya lama, mau wawancara bagaimana dik ?
Kelompok
6 :Begini Pak, sebelumnya saya ingin
berkenalan dengan bapak, nama bapak siapa ya ?
Ns.NQ,s.Kp :
Nama saya N Q
Kelompok 6 :Bapak
bekerja di rumah sakit ini sudah berapa lama ?
Ns.NQ,s.Kp :Kurang
lebih sepuluh tahun
Kelompok 6 : menurut bapak apa itu keperawatan ?
Ns.NQ,s.Kp : Menurut saya Keperawatan itu merupakan
pekerjaan mulia yang dekatdengan surga karena perawat yang di hadap ia dalah
orang-orang yang sakit,susah dan sedih jadi apabila perawatnya melayani dengan
ikhlas saya yakin hadiah yang tepat adalah surga
Kelompok 6 :menurut
bapak apa itu caring ?
Ns.NQ,s.Kp :menurut saya caring adalah peduli terhadap masalah pasien, peduli terhadap
kebutuhan pasien,dan peduli terhadap keluhan pasien.
Kelompok
6 :Bagaimana cara bapak menghadapi
karakter pasien yang berbeda-beda dalam menerima saran dari seorang perawat ?
Ns.NQ,s.Kp :dengan menjalin trust (kepercayaan) pada pasien sehingga pasien mau mengungkapkan
segala masalah yang sedang di hadapinya
Kelompok
6 :Bagaimana cara menyikapi citra
perawat yang di anggap sebagai pembantu dokter oleh masyarakat ?
Ns.NQ,s.Kp :saya tidak memikirkan anggapan masyarakat
tentang perawat, tetapi yang saya pikirkan adalah bagaimana cara melayani
pasien dengan baik, seandainya masyarakat tahu bahwa ketika mereka menginap di
rumah sakit yang di butuhkan adalah caring
bukan curing dari seorang
dokter.bahwa jika tidak ada perawat maka tidak akan ada pelayanan perawatan di
masyarakat.
Kelompok
6 :Apakah tantangan terbesar menjadi
perawat ?
Ns.NQ,s.Kp :Tantangan
terbesar menjadi perawat adalah belajar ikhlas, menstabilkan atau menjaga mutu
pada seluruh pasien yang ada dan cara menginformasikan berita buruk pada
pasien. Melayani pasien, terkadang terasa berat walaupun itu merupakan bagian
dari profesi perawat, seperti di bangunkan pada saat tengah malam ,memandikan
pasien, membuang urine dari pasien dan lain-lain.
Kelompok
6 : Bagaimana menanggapi citra perawat
yang dianggap perawat galak atau judes?
Ns.NQ,s.Kp :Citra seorang perawat di mata masyarakat
itu buruk.Ini berawal dari perawat yang judes dan galak itu paradigma perawat
yang dulu dari didikan dari jaman Belanda, yang di didik keras sehingga Mind
set masyarakat harus di ubah. Meraka yang bilang perawat judes itu mereka yang
belum merasakan perawatan itu sendiri atau mungkin mereka mendapatkan perlakuan
dari perawat yang judes itu yang menyebabkan Citra perawat di mata masyarakat
buruk.
Kelompok 6 :
Bagaimana cara menerapkan holistik dalam keperawatan ?
Ns.NQ,s.Kp :Yang jelas setiap keluhan yang di respons
dengan cepat maka akan menimbulkan
persepsi yang baik terhadap pasien tersebut kemudian kita menerima keluhan
pasien, mengerti yang pasien lakukan, yang jadi masalah adalah kebutuhan
pasien, pasien butuh sesuatu tidak respons malah di marahi gitu sehingga
menimbulkan persepsi di masyarakat itu
perawat judes malaya kita merubah apapun yang diminta pasien kita berusaha
memenuhi sepanjang itu tidak mengganggu kesehatan pasien.
Kelompok 6 :
cara memotivasi pasien yang down ?
Ns.NQ,s.Kp : pasien dikatakan dia down jika dia tidak
mengetahui penyakitnya itu sendiri, jika dia tidak tahu penyakitnya maka yang
dipikirkanya adalah penyakit kronis,menakutkan bahkan mengancam nyawa.sehinga
dia down yang kita lakukan kita gali pengetahuan pasien tentang
penyakitnya.setelah kita gali kita sampaikan informasi tentang penyakitnya
setelah tahu penyakitnya kita beri edukasi tentang penyakitnya sehingga pasien
tidak berpasrah diri.
Kelompok 6 :Bagaimana
cara perawat menyampaikan berita buruk kepada pasien ?
Ns.NQ,s.Kp :jika pasien belum siap dengan mendengar
berita buruk maka bias diwakilkan melalui penanggung jawab pasien yaitu
keluarga, Kalau sudah siap maka informasi dapat di sampaika secara langsung.
Kelompok 6 :Terima
kasih pak atas waktu yang di berikan untuk wawancara ini.
Ns.NQ,s.Kp :
Sama-sama
Perawat 2
Kelompok
6 : sebelum wawancara kami ingin
berkenalan dengan mbak ,namanya siapa mbak?
Ns.U P,S.Kp :
perkenalkan nama saya UP, saya bekerja disini baru 1,5 tahun .
Kelompok 6 :Apa
motivasi mbak menjadi seorang perawat ?
Ns.U
P,S.Kp : Termotivasi dari pekerjaan
rumah sakit dan dari kecil saya sudah banyak berhubugan dengan sesuatu yang
bebau kesehatan entah itu rumah sakit,puskesmas,dll, sebenernya dulu saya tidak
berminat untuk menjadi perawat tapi setelah bertemu pasien,memberi rasa empati
dan care terhadap pasien lama –lama saya suka menjadi perawat.
Kelompok 6 :menurut
pandangan mbak perawat itu seperti apa ?
Ns.U P,S.Kp :profesi
yang menurut saya sangat dibutuhkan oleh para pasien .
Kelompok 6 :
Menurut mbak apa itu caring ?
Ns.U
P,S.Kp : caring ittuu…. Mengenal pasien ,mengenal sakitnya ,mengenal
kebutuhan,berupa empati dan memenuhi keseluruhan kebutuhan pasien .
Kelompok 6 :oh
begitu,mbak prinsip caring itu
seperti apa ya ?
Ns.U
P,S.Kp : prinsip
caring itu memahami pasien dari
keseluruhan dan menemukan masalah setiap pasien .
Kelompok 6 :apa
hambatan mbak selama menjadi perawat?
Ns.U P,S.Kp :ya
itu pasieen yang ngeyel .
Kelompok
6 : Bagaimana mbak menyikapi pasien itu
agar tidak ngeyel terhadap perawatan yang diberikan?
Ns.U
P,S.Kp : pasien terlebih dahulu diberi edukasi
dan diberi informasi tentang penyakitnya .
Kelompok
6 :Bagaimana mbak menyikapi saat sedang
capek tapi harus memberi caring ?
Ns.U
P,S.Kp : saya mecoba memotivasi diri dan
menanggap pasien sebagai saudara.
Kelompok 6 :apa
keputusan mbak yang paling berat saat melakukan caring ?
Ns.U P,S.Kp :
saat tidak ada atasan yang dapat menentukan keputusannya
Kelompok
6 :terus mbak mengambil keputusannya
gimana saat tidak ada atasan ?
Ns.U
P,S.Kp :ya saya mendiskusikan dengan
sesama teman untuk mengambil keputusan .
Kelompok 6 :terimakasih
ya mbak atas waktunya ^_^.
Ns.U P,S.Kp :iya
dek sama-sama ^_^
Perawat 3
Ns.T,S.Kp :” Bagaimana dek? Mau wawancara apa?”
Kelompok
6
: “Begini bu kami ingin mewawancarai tentang caring . Bagaimana caring
menurut ibu ?”
Ns.T,S.Kp
: “caring
itu sebuah kepedulian terhadap orang lain, memiliki rasa empati, serta mau membantu seseorang dengan ikhlas. “
Kelompok
6 : “menurut ibu apa itu yang
dimaksud prinsip caring ?”
Ns.T,S.Kp
: “Prinsip caring yang saya terapkan dengan memberikan aura-aura positif
kepada pasien supaya pasien lekas sembuh, seperti saat bertemu pasien harus
dengan wajah yang gembira, terus tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang
sedang di hadapinya. “
Kelompok
6 :”Bagaimana ibu menerapkan prinsip caring ?”
Ns.T,S.Kp
: “Saya menanamkannya dengan melakukan
pendekatan dengan pasien namun masih dengan menggunakan paradigma keperawatan
jaman dahulu yang memberi ketegasaan dengan pasien saat melakukan caring.”
Kelompok
6 : “Bagaimana cara ibu menghadapi
karakter pasien yang berbeda-beda dalam
masukkan saran dari seorang perawat ?”
Ns.T,S.Kp :” saya berusaha
untuk melakukan komunikasi yang baik dengan pasien supaya pasien bisa
memberikan kepercayaannya dan dapat menerima saran dari perawat”.
Kelompok
6 :”Apabila ibu capek tetapi ibu
harus menanggani pasien apa yang ibu
lakukan ?”
Ns.T,S.Kp :” saya harus dapat
mengontrol emosi ketika sedang menanggani
pasien.”
Kelompok 6 : “terimakasih atas penjelasaan yang ibu beri begitu membantu kami
dalam menyelesikan tugas ini bu ^_^”
Ns.T,S. : “iya sama-sama dik ,hati-hati
dijalan “
: “Prinsip caring yang saya terapkan dengan memberikan aura-aura positif
kepada pasien supaya pasien lekas sembuh, seperti saat bertemu pasien harus
dengan wajah yang gembira, terus tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang
sedang di hadapinya. “
Kelompok
6 :”Bagaimana ibu menerapkan prinsip caring ?”
Ns.T,S.Kp
: “Saya menanamkannya dengan melakukan
pendekatan dengan pasien namun masih dengan menggunakan paradigma keperawatan
jaman dahulu yang memberi ketegasaan dengan pasien saat melakukan caring.”
Kelompok
6 : “Bagaimana cara ibu menghadapi
karakter pasien yang berbeda-beda dalam
masukkan saran dari seorang perawat ?”
Ns.T,S.Kp :” saya berusaha
untuk melakukan komunikasi yang baik dengan pasien supaya pasien bisa
memberikan kepercayaannya dan dapat menerima saran dari perawat”.
Kelompok
6 :”Apabila ibu capek tetapi ibu
harus menanggani pasien apa yang ibu
lakukan ?”
Ns.T,S.Kp :” saya harus dapat
mengontrol emosi ketika sedang menanggani
pasien.”
Kelompok 6 : “terimakasih atas penjelasaan yang ibu beri begitu membantu kami
dalam menyelesikan tugas ini bu ^_^”
Ns.T,S. : “iya sama-sama dik ,hati-hati
dijalan “