Jumat, 18 September 2015

BANGGA JADI PERAWAT

BANGGA JADI PERAWAT
Sebelum mengenal lebih jauh tentang keperawatan. Terlebih dahulu saya akan menceritakan tentang pengalaman hidup saya dalam mengambil keputusan untuk melanjutkan studi saya di jurusan keperawatan. Pada waktu saya menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, jika saya di tanya oleh orang tua dan guru tentang cita-cita saya. Saya dengan polosnya menjawab ingin menjadi dokter, tapi semasa Sekolah Menengah Pertama, saya ingin menjadi guru. Semakin berjalannya waktu dan pola pikir anak remaja yang labil di masa Sekolah Menengah atas, saya bingung menentukan jurusan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Detik-detik pendaftaran ke perguruan tinggi negeri pun sebentar lagi akan berakhir, dan saya belum menentukan pilihan akan mengambil jurusan apa. Dan setelah saya mempertimbangkan secara matang, akhirnya saya bertekad untuk mengambil jurusan keperawatan. Keputusan ini  mendapat respone dan dukungan yang baik oleh orang tua saya. Asal mula keyakinan saya untuk memilih jurusan ini adalah ketika saya menjenguk salah satu saudara saya yang di rawat di rumah sakit, saya melihat perawat-perawat rumah sakit yang dengan ramah dan penuh kasih sayang merawat dan melayani kebutuhan pasien-pasiennya. Saat itulah saya beranggapan mungkin jika saya menjadi perawat, saya juga akan seperti itu. Dan menurut saya menjadi perawat merupakan profesi yang menyenangkan. Karena saya bisa membantu dan merawat orang sakit, berinteraksi dengan pasien-pasien dengan karakter yang berbeda-beda. Tetapi dulu juga sempat muncul ketakutan-ketakutan dalam diri saya, karena saya kurang tahu tentang dunia medis yang akan saya pelajari kelak. Tapi setelah saya menjalani masa perkuliahan yang baru berjalan ± 1 bulan. Ternyata saya mulai mencintai dan memahami tentang hal-hal yang di ajarkan di jurusan keperawatan. Meskipun tidak sesuai dengan cita-cita awal saya waktu kecil untuk menjadi dokter, menjadi seorang perawat juga beda dikit sebelas duabelas. Intinya sama-sama bekerja di dunia medis juga. Dulu saya juga sering mendengar kalau perawat kerjanya hanya membantu dokter, tapi saya yakin jika dijalankan dengan penuh dedikasi, semangat dan percaya diri, perawat bisa menjadi profesi yang sangat bagus dan memiliki prospek kerja yang baik di masa yang akan datang. Dokter saja, tanpa ada perawat dan ahli medis lainnya. Pelayanan terhadap pasien akan tidak berjalan secara maksimal karena mereka adalah satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan di dunia kesehatan.
            Menjadi seorang perawat sudah menjadi keputusan saya. Tapi apa pendapat masyarakat luas ketika mendengar profesi perawat? Hal ini akan memberikan statement yang berbeda-beda pada setiap orang, di salah satu sisi perawat di anggap sebagai profesi yang sangat mulia dan menarik, tapi di sisi lain orang-orang beranggapan bahwa profesi perawat itu hanya sebagai pembantu dokter yang kerjanya di bawah naungan dokter. Padahal perawat  juga bisa berperan sebagai dokter, apoteker, psikolog, bahkan psikiater bagi pasiennya.
            Disini saya akan memaparkan lebih jelas, tentang apa sih itu profesi perawat? Apakah seperti yang kebanyakan di fikirkan orang-orang atau kebalikannya? Sebelum membahas lebih jauh tentang perawat, maka kita harus tahu terlebih dahulu tentang apa itu perawat? Menurut saya perawat adalah suatu profesi mulia yang bertujuan untuk merawat, memelihara, dan memberikan pelayanan kesehatan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang kepada pasien-pasien yang sedang menjalani proses penyembuhan terhadap penyakit akut atau kronik yang sedang di deritanya.
            Menurut kebanyakan masyarakat, beranggapan bahwa perawat hanyalah sebagai pembantu dokter yang kerjanya hanya memberikan obat yang di kasih dokter, memandikan pasien, membantu makan dan minum, bahkan membantu pasien untuk buang air kecil maupun besar. Padahal jika kita memperhatikan lebih jauh lagi. Tugas perawat bukanlah hanya sekedar itu. Hal ini terjadi dikarenakan kebanyakan masyarakat telah didekatkan dengan citra perawat yang identik dengan sombong, tidak ramah, genit, tidak pintar seperti dokter dan sebagainya. Seperti itulah kira-kira citra perawat di mata masyarakat yang kurang memperhatikan pekerjaan perawat. Untuk mengubah citra perawat seperti yang banyak digambarkan masyarakat memang tidak mudah, tapi itu merupakan suatu keharusan bagi semua perawat, terutama seorang perawat profesional. Menjadi seorang perawat ideal bukanlah suatu hal yang mudah. Namun, seorang perawat harus bisa mengembangkan kemampuan dirinya sehingga mendapat citra yang lebih baik di mata masyarakat, sehingga citra perawat yang di anggap hanya sebagai pembantu dokter dapat luntur dengan sendirinya.
Selain merawat biologis pasien, perawat juga menjaga psikologis dan spiritual pasien. Seorang perawat harus dapat memberikan suatu motivasi dan dukungan kepada pasiennya agar proses penyembuhannya pun berjalan cepat, karena semakin sering seorang perawat  bertemu dan memberikan stimulus yang baik dan nyaman bagi pasien maka pasiennya pun akan selalu berfikir positif dan mempunyai semangat yang tinggi untuk kesembuhannya. Dan sebaliknya jika perawat tidak memberikan stimulus yang tidak baik maka proses penyembuhan pasien akan berjalan lambat.
            Pada dasarnya Perawat merupakan suatu profesi yang mulia. Sesuai dengan awal perkembangan keperawatan yang di pelopori oleh Lorent Nightingale yang dengan nalurinya mengobati luka tentara perang tanpa mengenal waktu. Selain itu seorang perawat rela berkorban mengabdikan dirinya untuk menjaga dan merawat pasien tanpa membedakan apapun, semua pasien di anggap sebagai keluarga sendiri yang secepatnya membutuhkan pertolongan keperawatan. Sehingga setiap tindakan medis yang dilakukan oleh seorang perawat akan sangat berharga bagi nyawa orang lain.

Sebenarnya banyak alasan-alasan lain yang mendasari saya dalam mengambil keputusan untuk menjadi seorang perawat, diantaranya : Pertama, peluang kerja perawat sangat terbuka lebar Seperti, di Rumah Sakit, Klinik, Puskesmas, Dinas Kesehatan, Palang Merah Indonesia (PMI) , sebagai Dosen, dan lain-lain selagi orang masih mengalami sehat dan sakit. Bahkan setelah di bukanya AEC(Asean Economic Community) pada tahun 2015 nanti, perawat juga mempunyai kesempatan besar untuk bekerja di luar negeri setelah lolos dari uji kompetensi yang di adakan oleh konsul dan memenuhi semua kriteria. Fakta lainnya yaitu di suatu rumah sakit jumlah perawat pasti lebih banyak dari pada tenaga medis lainnya seperti, dokter, apoteker, petugas lab, dan lain-lain. Apalagi setelah di sahkannya Undang-undang(UU) keperawatan pada tanggal 25 september 2014, semakin menambah peluang kerja seorang perawat untuk membuka praktek mandiri. Kedua, menjadi seorang perawat adalah suatu hal yang menarik, karena kita akan lebih sering berinteraksi dengan dengan orang yang berbeda-beda dengan problem yang berbeda-beda pula, dengan begitu akan muncul tantangan, kemudian butuh reaksi cepat dalam penanganan dan harus cerdas dalam setiap tindakan. Ketiga, secara tidak langsung akan memberikan kepuasan tersendiri ketika melihat pasien sembuh. Dengan kata lain, perawat adalah petugas medis yang memang paling banyak jasanya dalam menjalankan tugas-tugasnya. Tanpa panggilan jiwa, seorang perawat akan sulit melaksanakan tugasnya dengan baik. Sehingga setelah saya mendapat pengetahuan yang cukup banyak tentang perawat, tidak ada keraguan bagi saya untuk memilih profesi perawat sebagai pilihan hidup saya. Jadi, marilah kita tunjukan  kemampuan kita sebagai perawat yang profesional, agar masyarakat tidak menganggap kita dengan sebelah mata.

Kamis, 17 September 2015

STATISTIKA





STATISTIKA
PERKEMBANGAN STATISTIKA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Statistika

Dosen Pengampu :
M. Hasib Ardani, S.Kp.,M.Kes

Oleh:
1.      Ainur Muhti Ashari                        (22020114130106)
2.      Ali Iksan Adi S                               (22020114140109)
3.      Arintan Nur S                                 (22020114120046)
4.      Avinda Deviana                              (22020114120028)
5.      Endah Sulistyorini                          (22020114140132)
6.      Khirza Maulida F                            (22020114130134)
7.      Murti Agustin                                 (22020114130096)
8.      Noor Dhyana Muftiani                   (22020114120017)

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015
A.  Definisi Statistika
1.    Definisi menurut anggota kelompok 1 Statistika:
a)    Murti
Statistika adalah suatu proses pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan analisis kumpulan data yang dapat dioperasikan.
b)   Arintan
Statistika adalah suatu proses pengolahan data yang terdiri dari menghitung, mengelompokkan, dan menyimpulkan data hingga membentuk suatu hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.
c)    Endah
Statistika adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan dan penyusunan data, pengolahan data, dan penganalisaan data, serta penyajian data berdasarkan kumpulan dan analisis data yang dilakukan.
d)   Ainur
Statistika adalah cara untuk mengolah data dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang teliti dan keputusan-keputusan yang logis dari pengolahan data.
e)    Ali
Statistika adalah sekumpulan cara yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan, penarikan kesimpulan, atas data-data yang berbentuk angka dengan menggunkan suatu metode-metode tertentu.
f)    Dhyan
Statistika adalah ilmu yang mempelajari tentang data-data yaitu tentang pengumpulan, pengolahan, penganalisaan, penafsiran, dan penarikan kesipulan dari data yang berbentuk angka.
g)   Fifi
Statistika adalah ilmu pengetahuan dengan mempergunakan metode dan teknik-teknik perhitungan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan.
h)   Avinda
Statistika adalah kumpulan data-data yang berisi angka-angka atau tabel atau diagram yang disusun, diolah, dianalisis, serta disajikan untuk menggambarkan suatu masalah objek tertentu.
i)     Kesimpulan :
Statistika adalah ilmu yang berkaitan dengan proses dan sekumpulan cara yang terdiri dari pengumpulan, penyusunan, pengolahan, analisis dan penarikan kesimpulan data, yang dapat berupa angka untuk menyelesaikan masalah dan mendapatkan hasil tertentu.
2.      Definisi menurut para ahli:
Secara etimologi, statistik berasal dari bahasa Romawi States, yang berarti negara, Negarawan. Diartikan demikian karena statistik pada waktu itu banyak digunakan untuk urusan negara, seperti biaya pajak, jumlah penduduk. Sehingga munculah berbagai jenis statistik misalnya statistik penduduk, statistik kelahiran, statistik pendidikan. Statistik merupakan ilmu yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan data, serta sifat-sifat data. Adapun kegiatan statistik adalah pengumpulan data, pengolahan data, penyajian data serta penganalisaan data, penarikan kesimpulan serta pembuatan kesimpulan yang didasarkan atas data yang diperoleh. Data diperoleh dari fakta, pengertian fakta adalah kejadian yang benar-benar terjadi atau bekas-bekasnya ada. Kegunaan data adalah memberikan informasi kepada yang membutuhkan. Informasi inilah yang memberikan perubahan kepada manusia. Jadi statistik itu adalah ilmu yang mempelajari pengumpulan, pengolahan, penyajian, penganalisaan data serta penarikan kesimpulan.
Menurut Purwanto (1995) sesuatu dikatakan statistik apabila:
a.    Merupakan agregat
Agregat adalah kumpulan fakta-fakta yang diperoleh dari objek yang kita amati.
b.    Diperoleh dengan cara menghitung atau mengukur
c.    Mempunyai variabilitas
Menurut Budiarto (2002), saat ini terdapat tiga pengertian statistika, yaitu sebagai berikut:
a.       Statistika merupakan kumpulan angka yang dihasilkan dari pengukuran atau penghitungan yang disebut data.
b.      Statistika dapat pula diartikan sebagai statistik sampel.
c.       Statistika sebagai suatu metode ilmiah yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan, mengadakan analisis data hasil penelitian, dan lain-lain.
B.  Sejarah Statistika
Kata statistika berasal dari bahasa Italia yaitu statistia yang berarti pejabat negara yang dikenal sejak zaman romawi. Penggunaan metode statistika saat itu masih terbatas pada kepentingan negara yang berisi data jumlah penduduk  menurut umur, jenis kelamin, dan pekerjaan yang digunakan untuk penarikan pajak dan wajib militer.
Statistika diawali sebagai ilmu untuk mengumpulkan angka (data).  Pada abad 17  statistika deskriptif mulai berkembang, begitu juga ilmu peluang yang awalnya dilahirkan dari meja judi mulai muncul .  Ilmu peluang ini melandasi berkembangnya statistika induktif yang terjadi pada pertukaran abad 19 dan 20 dengan Karl Pearson sebagai pelopornya. Statistika induktif berkembang pesat setelah R. A. Fisher memperkenalkan metode Maximum Likelihood pada tahun 1922. Dengan adanya perkembangan teknologi komputer, metode eksplorasi data dan bootstrap mulai berkembang pada tahun 1970.  Metode ini sebagai awal dari analisis data tanpa model peluang yang populer dengan data driven. Seiring dengan perkembangan statistika induktif, statistika mulai diterapkan pada berbagai bidang  seperti ekonomi, industri, pertanian, sosiologi, psikologi, dan lain-lain. Di bidang ekonomi aplikasi statistika pada ekonometrika, sedangkan di bidang  industri aplikasi yang sangat terkenal adalah metode Quality Control dan metode Six-Sigma. Pada abad 21 diperkirakan metode data mining akan banyak digunakan dalam bidang terapan.  Perkembangan ini akan berpengaruh terhadap model pendidikan dan pengajaran statistika dewasa ini.
Di Inggris,penggunaan statistika dalam bidang kesehatan diawali oleh raja Henry  VII yang memerintahkan untuk melakukan pencatatan kematian pada tahun 1532 M . Pada tahun 1662, kapten John Graunt menggunakan catatan undang-undang kematian selama 30 tahun untuk memperkirakan jumlah orang yang akan meninggal karena berbagai macam penyakit, proporsi kelahiran laki-laki dan wanita serta membuat table perjalanan hidup. 
Perkembengan statistika kedokteran mengalami hambatan karena masih banyaknya klinisi yang skeptis dan tidak setuju penggunaan metode statistik dalam bidang kedokteran dengan alasan statistik hanya kumpulan angka-angka yang tidak sesuai kenyataan dan etika kemanusiaan.  Alasan lain yaitu karena perhatian dokter hany6a tertuju pada penderita secara individu dan setiap penderita akan berbeda dengan penderita lain hingga kontribusi statistika akan memajukan bidang kedikteran sangat kecil.
C.  Manfaat Statistika
1.      Memberikan gambaran tentang suatu objek secara lengkap dan ringkas
2.      Membandingkan kejadian satu dengan kejadian lainnya dengan beracuan pada waktu atau tempat.
3.      Membuat ramalan pada kegiatan yang sama dimasa yang akan datang.
D.  Jenis Statistika
Statistik dibedakan atas beberapa jenis berdasarkan kriteria tertentu, seperti cara pengolahan data, ruang lingkup penggunaan, dan bentuk parameternya.
1.      Jenis Statistika Berdasarkan Cara Pengolahan Data :
Berdasarkan cara pengolahan datanya statistika dibagi dua katagori, yakni statistika deskriptif dan statistika inferensi.
a)   Statistika deskriptif
Statistika deskriptif adalah bagian dari statistika yang membahas tentang cara pengumpulan  dan penyajian data hingga mudah dimengerti. Statistika deskriptif hanya berkaitan dengan hal menguraikan atau memberikan keterangan-keterangan mengenai suatu data atau keadaan atau fenomena. Sehingga dapat dikatakan bahwa statistika deskriptif hanya berfungsi mendeskripsikan keadaan, gejala, atau persoalan. Contoh pernyataan yang termasuk dalam statistika deskriptif :
1)   Sekitar 10% ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas menderita anemia.
2)   Separuh dari pasien yang menerima suntikan Obat tertentu, temyata kemudian menderita efek samping Obat tersebut.
Penarikan kesimpulan pada statistika deskriptif hanya ditujukan pada kumpulan data yang ada.
b)   Statistika inferensi 
Statistika inferensi atau statistika induktif adalah jenis statistika yang mempelajari mengenai penafsiran dan penarikan kesimpulan yang berlaku secara umum atau proses generalisasi berdasarkan data yang telah dikumpulkan. Statistika inferensi berkaitan dengan pendugaan populasi dan pengujian hipotesis berdasarkan data yang telah dikumpulkan. Penarikan kesimpulan pada statistika inferensi merupakan generalisasi terhadap populasi berdasarkan data sampel yang ada. Berdasarkan atas ruang lingkup bahasannya, satistika  inferensi meliputi: 
1.    Probabilitas atau teori kemungkinan 
2.    Distribusi teoritis 
3.    Sampling dan distribusi sampling 
4.    Pendugaan populasi atau teori populasi 
5.    Oji hipotesis 
6.    Analisis korelasi dan uji kemaknaan, dan analisis regresi untuk peramalan 
2.      Jenis Statistika Berdasarkan Ruang Lingkup Penggunaan 
Berdasarkan mang lingkup penggunaannya atau disiplin ilmu yang menggunakannya, statistika dapat dibagi atas beberapa jenis, seperti:
a)      Statistika kesehatan, adaläh statistika yang diterapkan atau digunakan dalam bidang kesehatan. Statistika kesehatan sering disebut juga sebagai 'Biostatistika'.
b)      Statistika gizi, adalah statistika yang diterapkan atau digunakan dalam bidang gizi. 
c)      Statistika farmasi adalah statistika yang diterapkan atau digunakan dalam bidang farmasi. 
d)     Statistika kebidanan adalah statistika yang diterapkan atau digunakan dalam bidang kebidanan. 
e)      Statistika keperawatan adalah statistika yang diterapkan atau digunakan dalam bidang keperawatan. 
f)       Statistika pertanian adalah statistika yang diterapkan atau digunakan dalam bidang pertanian. 
g)      Statistika pendidikan adalah statistika yang diterapkan atau digunakan dalam bidang pendidikan. 
h)      Statistika ekonomi adalah statistika yang diterapkan atau digunakan dalam bidang ekonomi. 



3.      Jenis Statistika Berdasarkan Bentuk Parameter 
          Berdasarkan bentuk parametemya, statistika dapat dikelompokkan menjadi statistika parametrik dan statistika nonparametrik. 
 
 
 
1.  Statistika parametrik 
   Statistika parametrik adalah bagian dari statistika yang parameter dari populasinya mengikuti suatu distribusi tertentu, seperti distribusi normal serta memiliki varians yang homogen jika suatu penelitian memungkinkan melakukan pengamatan terhadap semua unsur dalam populasi maka akan dihasilkan beberapa ukuran dalam bentuk bilangan atau angka. Ukuran yang diperoleh dari data kuantitatif berupa nilai mean atau rata-rata hitung dan standar deviasi atau simpangan baku. Rata-rata hitung yang dihasilkan dari populasi diberi tanda atau simbol "µ" dan simpangan baku “σ” Hasil ukur dari populasi disebut "parameter. 
2.    Statistika nonparametrik 
Statistika nonparametrik adalah bagian dari statistika yang parameter dari populasinya tidak mengikuti suatu distriibusi tertentu atau memiliki distribusi yang bebas dari persyaratan dan variansnya tidak mesti homogen. Hasil ukur yang diperoleh dari sampel berupa rata-rata hitung atau mean dengan simbol "χ" (x—bar) dan simpangan baku us'. Hasil ukur dari sampel disebut statistik. Untuk data kualitatif ukuran parametemya adalah “Ï€ dan ukuran statistiknya adalah “p”. 
 
E.Langkah-Langkah Metode Statistik
Metodologi Statistika
Dalam penyelesaian suatu persoalan secara statistik harus digunakan pendekatan ilmiah yang terdiri dari beberapa tahap. Bila salah satu tahap diabaikan, maka hasil akhirnya dapat menjadi tidak sahih dan tidak tepat. Tahap-tahap dalam statistik adalah :
a.     Mengidentifikasi persoalan
Pertama kali persoalan yang dihadapi harus difahami dan didefinisikan dengan benar. Pada tahap ini informasi kuantitatif sangat bermanfaat. Tahap ini termasuk dalam perencanaan penelitian,hal ini diperlukan sebagai pedoman dalam mengumpulkan data kasar secara terarah dan ekonomis sehingga peneliti mengerti betul pokok persoalan yang menjadi objek penelitian.
b.    Mengumpulkan data atau fakta-fakta yang ada
Data harus dikumpulkan dengan tepat dan selengkap mungkin serta berhubungan dengan persoalan yang dihadapi.
c.     Mengumpulkan data asli yang baru
Seringkali data yang diperlukan tidak tersedia pada sumber-sumber yang ada, karena itu harus dikumpulkan sendiri (misalnya survey, kuestioner, dll).
d.     Klasifikasi data
Setelah data dikumpulkan, data dan fakta dikelompokkan sesuai dengan tujuan studi. Mengidentifikasi data berdasarkan kemiripan sifat-sifatnya dan menyusunnya ke dalam kelompok-kelompok dinamakan klasifikasi. Tahap ini termasuk dalam tahap pengolahan data.
e.    Penyajian Data
Ringkasan informasi disajikan dalam bentuk tabel, diagram, dan ukuran-ukuran deskriptif seperti rata-rata dan dispersi, dll.
f.     Analisis Data dan Penarikan Kesimpulan
Penganalisisan data merupakan proses pemilihan metode yang tepat yang sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil dari analisis diinterpretasikan sehingga data yang terkumpul tersebut dapat memberikan gambaran mengenai penelitian yang dilakukan. Jika data dikumpulkan dari sampel (bukan populasi), maka berdasarkan ukuran-ukuran deskriptif yang telah dihitung, dilakukan pendugaan parameter populasi dan pengujian asumsi parameter atau ciri-ciri populasi. Pendugaan dan pengujian nilai parameter populasi berdasarkan informasi dari sampel merupakan unsur utama dalam statistik inferensi. Kemudian analisis menafsirkan hasil pendugaan dan membuat kesimpulan atas hasil pengujian.























DAFTAR PUSTAKA
Budiaro, E.(2001). Biostatistika untukkedokteran dan kesehatan masyarakat. (edisi pertama). Jakarta:EGC
Purwanto, H.(1994). Pengantar statistik keperawatan. (edisi pertama). Jakarta: EGC
Rachmat, M. (2012). Buku ajar biostatistika aplikasi pada penelitian kesehatan. Jakarta: EGC


Selasa, 15 September 2015

Wawancara perawat tentang "PERILAKU CARING"

BeWBz4rCcAAvrOP.jpg




MAKALAH KEPERAWATAN HOLISTIK
WAWANCARA 3 PERAWAT PROFESI
“PERILAKU CARING

Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Holistik
Dosen Pembimbing: Ns. Sarah Ulliya

Disusun oleh:
1.      Arintan Nur Safitri                (22020114120046)
2.      Avinda Deviana                    (22020114120028)
3.      Eva Handayani                      (22020114130071)
4.      Fajar Sigit Prihantoro            (22020114120068)
5.      Khirza Maulida Fitri              (22020114130134)
6.      Pramastuti Budi Yuanti        (22020114130072)

FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEPERAWATAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014

KATA PENGANTAR


Pujisyukurpenulisucapkankehadirat TuhanYang Maha Esa Karena hanya atas berkat dan rahmat yang dilimpahkan-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan Holistik. Sebagai wujud dari pengabdian kami kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus bentuk realisasi dari tanggung jawab dan kewajiban kami selama mengikuti mata kuliah ini. Makalah yang berjudul WAWANCARA 3 PERAWAT PROFESI “PERILAKU CARINGberisi materi pembahasan yang memaparkan tentang perilaku caring yang diterapkan oleh 3 perawat profesi dan bagaimana kaitannya dengan teori-teori caring yang ada. Sehingga makalah dapat digunakan untuk penyajian diskusi dan/atau untuk keperluan lainnya.
Oleh karena itu, dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan yang jauh dari sempurna dan penulis berharapa dan ya kritik dan saran dari semua pihak yang nantinya di pergunakan untuk meyempurnakan makalah ini.
Selama penyusunan makalah, penulis telah banyak memperoleh bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih pada:
1.    Ibu Sarah Ulliya, selaku Dosen pembimbing mata kuliah keperawatan holistik yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk yang berguna dalam  penyusunan makalah ini.
2.    Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam penyusunan makalah ini.

Semarang, 8 Oktober 2014


Penyusun

DAFTAR ISI





BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Caring merupakan proses interpersonal yaitu hubungan yang terjadi antara perawat dengan klien yang merupakan bagian dari intervensi yang membantu dalam pemenuhan kebutuhan manusia dalam meningkatkan kesehatan, mengembalikan klien pada kondisi sehat dan mencegah kesakitan (Watson 1979, dikutip dari Potter & Perry, 2005). 
Caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan. Leinenger (1984) menyatakan care berasal dari dalam hati dan utama dalam keperawatan yang dimanifestasikan melalui caring yang merupakan ciri yang dominan, khusus, serta tidak terpisahkan dalam keperawatan. Leinenger mengatakan, tidak ada cure tanpa caring, tapi dapat ada caring tanpa curing. Ia menekankan bahwa human caring merupakan fenomena yang universal, memiliki ekspresi, proses dan pola yang berbeda antar budaya (Synder, 2011).
Konsep caring pun mengalami perkembangan yang pesat. Beberapa tokoh keperawatan seperti Watson (1979), Leininger (1984), Benner (1989), menempatkan caring sebagai dasar dalam praktek keperawatan, jika perawat sebagai suatu kelompok profesi yang bekerja selama 24 jam di rumah sakit lebih menekankan caring sebagai pusat dan aspek yang dominan maka perawat dapat membantu pasien meningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit dengan memandang klien secara komprehensif (Potter & Perry, 2005).
Caring juga menekankan harga diri individu, artinya dalam melakukan praktik keperawatan, perawat senantiasa selalu menghargai klien dengan menerima kelebihan maupun kekurangan klien. Watson juga mengemukakan bahwa respon setiap individu terhadap suatu masalah kesehatan unik, artinya perawat harus mampu memahami setiap respon yang berbeda dari klien terhadap penderitaan yang dialaminya dan memberikan pelayanan kesehatan


yang tepat dalam setiap respon yang berbeda Watson (1979, dikutip dari Sartika, 2011). Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik, psikologis, spiritual, dan sosial (Tomey &Alligood, 2006). Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping klien, semangat caring harus tumbuh dalam diri setiap perawat dan berasal dari hati perawat yang terdalam. Cooper (1999 dikutip dari Dwiyanti, 2010).
Perilaku caring sangat penting karena akan memberikan kepuasan pada klien sehingga diharapkan setiap perawat memahami konsep caring dan mengaplikasikan dalam asuhan keperawatan. Selain itu perilaku caring dapat mempengaruhi kualitas layanan kesehatan dan kepuasan klien di rumah sakit, dimana kualitas pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang dapat meningkatkan kepuasan pasien dan mutu pelayanan (Saputri, 2010).
Berdasarkan uraian diatas, mengingat tugas dan peran perawat yang sangat hakiki sendiri maka penyusun makalah ingin mengetahui dan meneliti bagaimana perilaku caring yang diterapkan oleh perawat profesi di RSUP Kariadi.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
1.    Untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan holistik.
2.    Untuk mengetahui caring dan perilaku caring yang diterapkan oleh perawat profesi di RSUP Kariadi.
3.    Untuk memberikan intervensi kepada penulis makalah tentang keprofesian keperawatan.



BAB II

HASIL WAWANCARA

2.1    Hasil Wawancara 1

Wawancara yang dilakukan di RSUP Kariadi dilakukan pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 sekitar pukul 13.22 di bagian klinik TB-MRD. Wawancara pertama dilakukan dengan Ns. NQ, S.Kp. Ns. NQ, S.Kp. berusia 31 tahun dan bekerja menjadi perawat sudah sejak 10 tahun yang lalu. Beliau memiliki pandangan bahwa perawat adalah pekerjaan yang selalu berhadapan dengan orang-orang yang sedih, penuh masalah, dan segala macam keluhan dari pasien. Selain itu perawat adalah profesi yang dekat dengan surga apabila dijalani dengan ikhlas karena tindakan caring dan asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien merupakan suatu tindakan yang mulia.
Beliau sadar bahwa profesi perawat memang sering dipandang masyarakat sebagai profesi pembantu dokter namun beliau menghiraukan semua itu karena perawat adalah profesi yang dengan tindakan dan intervensi yang diberikan dapat menyelamatkan nyawa-nyawa orang di dunia.
Saudara NQ adalah seorang alumni ners dari Universitas Muhammadiyah Semarang pada tahun 2004 berpendapat bahwa caring adalah peduli terhadap orang lain, keluhan orang lain, dan kebutuhan orang lain. Dalam memberikan perilaku caring tidak seutuhnya berjalan mulus karena pasien ataupun klien yang dihadapi memiliki karakter yang berbeda-beda. Membangun sebuah kepercayaan “trust” antara perawat dengan klien adalah langkah pertama untuk menghadapi masalah dalam memberikan caring kepada pasien.
Selain itu hal yang tidak boleh dilupakan dari seorang perawat adalah menjalin komunikasi dengan pasien. Misalnya memberi tahu tentang perkembangan kondisi pasien, baik itu kondisi buruk maupun kondisi baik. Namun penyampaian kondisi pasien tersebut harus memperhatikan kesiapan pasien untuk menerima informasi tentang kondisi kesahatan yang sebenarnya. Apabila pasien tersebut memiliki kondisi yang tidak memungkinkan untuk menerima kabar tentang kondisinya maka sebaiknya informasi tersebut disampaikan kepada orang yang bertanggung jawab kepada pasien tersebut misalnya, apabila pasien tersebut anak-anak maka informasi tentang keadaannya di sampaikan kepada orang tuannya begitupun sebaliknya. Jadi menurut Perawat NQ prinsip utama caring adalah memberikan tindakan kepedulian, komunikasi dengan pasien, dan jujur atas keadaan pasien pada waktu yang tepat.
Beliau menerapkan beberapa perilaku saat caring antara lain memberi edukasi mengenai penyakit yang diderita pasien, memberikan motivasi kepada pasien mengenai penyakitnya, dan tetap mengontrol kondisi pasien. Selain itu saat Beliau sedang lelah dan emosi Beliau tidak akan memberikan tindakan caring namun mengalihkan tugasnya ke perawat yang lain.
Perawat kelahiran Grobogan, 22 Juli 1982 ini selalu berusaha untuk merespon keluhan pasien secara cepat. Dengan begitu sebagai perawat akan merasa puas atas tindakan yang diberikan dan bisa mendapat feedback positif dari pasien. Beliau mengaku hal terberat saat menjadi perawat adalah saat jaga malam. Karena saat jaga malam, beliau harus lebih waspada atas hal apa yang mungkin terjadi.

2.2    Hasil Wawancara 2

Wawancara kedua dilaksanakan di ruang TB-MRD RSUP Kariadi pada hari Kamis, 9 Oktober 2014  pukul 13.42 bersama Ns. UP, S.Kp. Ns. UP, S.Kp adalah seorang perawat profesi yang bekerja sejak satu setengah tahun yang lalu. Passionnya di dunia kesehatan sejak duduk di bangku SD telah membawanya pada profesi perawat. Profesi yang menurutnya sangat dibutuhkan orang dalam tanda kutip orang yang dalam kondisi sakit, kesusahan, dan membutuhkan bantuan. Prinsip dalam keperawatan menurutnya adalah caring.
Perawat alumni UGM ini mengungkapkan perilaku caring adalah mengenal pasien secara menyeluruh. Ada beberapa tahap yang dilakukan saat caring. Yang pertama adalah tahap perkenalan dengan pasien, seorang perawat bisa memberikan intervensi dan mengidentifikasi pasien. Selanjutnya dari pengidentifikasian tersebut bisa menimbulkan jalinan komunikasi antara pasien dengan perawat. Perawat juga merupakan mitra kerja dokter, selain komunikasi dengan pasien juga membutuhkan komunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya, antara lain dokter, ahli gizi, dan lain-lain.
Perawat UP selalu menjalin mitra kerja yang baik dengan tenaga-tenaga kesehatan lain yang bersangkutan. Misalnya dalam menyampaikan hasil diagnosa merupakan kewenangan dokter maka hal tersebut akan ia serahkan kepada dokter. Beliau juga akan menyerahkan dan membagi hasil pemeriksaan ke ahli gizi dengan keperluan untuk mengatur asupan gizi pasien.
Prinsip caring yang beliau terapkan selalu mengikuti paradigma keperawatan yang berkembang di masyarakat. Prinsip yang saat ini Beliau terapkan adalah intervensi tindakan keperawatan secara holistic care. Tindakan holistic care yang diterapkan Ns. UP antara lain edukasi, konsultasi, dan menghadirkan peran educator. Menghadirkan peran educator adalah menghadirkan orang yang pernah menderita penyakit yang sama dengan pasien yang sedang ditangani namun sudah sembuh sembuh, misalkan dalam bidangnya menghadirkan pasien TB-MRD guna memotivasi pasien yang sedang mengidap penyakit TB-MRD. Kenapa holistic care? Karena bagi perawat asal jogja ini perawatan yang diberikan secara menyeluruh adalah intervensi yang tepat. Selain itu menurutnya holistic care merupakan paradigma moderen yang lebih baik diterapkan perawat masa kini.

2.3    Hasil Wawancara 3

Wawancara ketiga masih dilakukan di ruang TB-MRD RSUP Kariadi pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 pukul 14.33 dilakukan bersama Ns. T, S.Kp. yang sudah berprofesi sebagi perawat sejak tahun 1997. Alasan utama beliau menjadi perawat karena kecintaannya Beliau sejak kecil dengan profesi perawat. Sehingga hal tersebut membuatnya full heart di pekerjaannya.
Beliau mengutarakan perilaku caring adalah peduli terhadap orang lain, memiliki rasa empati, serta mau membantu seseorang dengan ikhlas. Prinsip caring yang diterapkan Ns. T yaitu memberikan aura-aura positif kepada pasien supaya pasien lekas sembuh, seperti saat menghadapi pasien harus dengan wajah yang gembira, dan tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang sedang di hadapinya.
Baginya perawat adalah profesi yang sangat ia cintai. Karena dari cinta yang ia bangun dalam dirinya membuatnya ikhlas dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Beliau pun juga sempat berpesan kepada kami, kalau kami belum fullheart di keperawatan lebih baik tidak dilanjutkan karena profesi perawat membutuhkan keikhlasan agar dapat memberikan tindakan dan intervensi yang tepat dan cepat.
Perawat asal Surabaya ini selalu melakukan pendekatan dengan pasien namun masih dengan menggunakan paradigma keperawatan jaman Belanda, yaitu dengan memberikan ketegasan pada saat memberikan perilaku caring. Selain itu Beliau selalu melakukan komunikasi dengan pasien supaya pasien bisa memberikan kepercayaannya kepada perawat


BAB III

PEMBAHASAN

3.1     Analisis Hasil Wawancara Terkait Beberapa Teori

Menurut Potter & Perry (2005), sebuah keahlian yang dimiliki untuk mengabdi kepada orang lain dengan menunjukkan rasa perhatian dan peduli dikenal dengan istilah caring. Hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Ns. NQ, S.Kp. bahwa caring adalah peduli terhadap orang lain, keluhan orang lain, dan kebutuhan orang lain. Perawat NQ melakukan intervensi dan tindakan dengan ikhlas sebagai wujud dedikasi Beliau. Selain itu, caring mempengaruhi cara berpikir seseorang, perasaan dan perbuatan seseorang. Caring juga mempelajari berbagai macam filosofi dan etis perspektif.
Sedangkan menurut Sartika & Nanda (2011), caring diartikan sebagai perilaku yang dilakukan perawat dengan pendekatan dinamis untuk meningkatkan tingkat caritas kepada klien yang merupakan pusat pada praktik keperawatan. Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan.
Perawat NQ mengungkapkan bentuk kepedulian dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah pendekatan yang dinamis. Pendekatan-pendekatan dinamis itu antara lain membangun komunikasi dengan pasien agar pasien bisa percaya akan asuhan keperawatan yang diberikannya. Motivasi, edukasi, dan kontrol juga senantiasa perawat NQ berikan sebagai upaya perilaku caring yang diberikannya bagi pasien-pasien di klinik TB-MRD. Perilaku caring yang juga menjadi perhatiannya adalah merespon keluhan pasien secara cepat.
Hal yang sama juga diberikan oleh Ns. UP, S.Kp. sebagai narasumber kedua terkait caring. Pendekatan-pendekatan dinamis yang Beliau lakukan antara lain:
1.    Memberikan intervensi dan mengidentifikasi pasien
2.    Menjalin komunikasi dengan pasien
3.    Menjalin mitra kerja yang baik dengan dokter, ahli gizi, dan staff ahli kesehatan lainnya.
Teori Transpersonal Watson tentang caring (1979) sebagai model holistic keperawatan yang menyebutkan bahwa tujuan caring adalah untuk mendukung proses penyembuhan secara total (Hoover, 2002). Teori menggambarkan suatu kesadaran perawat untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan menjadi perawat, sakit dan caring, serta pulih. Teori caring transpersonal menolak pelayanan kesehatan dan tempat pelayanan yang berorientasi penyakit sebelum diobati (Watson, 1988).
Teori Transpersonal Watson tentang caring diterapkan pula oleh perawat UP. Perawat asal Jogja menerapkan caring dengan asuhan keperawatan yang holistic atau menyeluruh. Tindakan yang dilakukannya untuk tetap bisa memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh antara lain edukasi, motivasi, konsultasi, dan menghadirkan peran educator. Dengan begitu Ns. Utami tidak hanya mengobati pasien dalam hal penyakitnya saja khususnya bagi pasien yang ada di kliniknya yaitu klinik TB-MRD. Beliau yakin bahwa orang-orang yang mengidap penyakit TB-MRD tidak hanya membutuhkan pengobatan untuk aspek biologisnya saja, tetapi juga aspek psikologi, spiritual, dan kultural.
Aplikasi Model Caring Watson di ungkapkan dalam beberapa cara antara lain:
1.        Melatih rasa cinta dan kepedulian
2.        Menciptakan kepercayaan-harapan
3.        Meningktakan rasa sensitive terhadap diri sendiri dan sesame
4.        Membangun pertolongankepercayaan, hubungan manusia
5.        Mengungkapkan perasaan positif dan negative
6.        Menggunakan proses caring yang kreatif dalam penyelesaian masalah
7.        Mempromosikan transpersonal belajar-mengajar
8.        Mengutamakan aspek spiritual dan keyakinan utuk penyembuhan
9.        Menyediakan caring berdasarkan kebutuhan dasar manusia
10.    Menciptakan lingkungan yang menyembuhkan (terapeutik).
Beberapa hal di atas juga diterapkan oleh Ns. T seperti dengan memberikan aura-aura positif kepada pasien supaya pasien lekas sembuh, seperti saat menghadapi pasien harus dengan wajah yang gembira, terus tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang sedang di hadapinya. Beliau juga memberikan beberapa aspek saat caring namun dengan paradigma yang berbeda dengan perawat lainnya. Ns. T lebih memilih menggunakan paradigma keperawatan jaman Belanda.
Ada beberapa definisi caring yang diungkapkan para ahli keperawatan: Watson (1979) yang terkenal dengan Theory of Human Caring, mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh.
Kesanggupan pasien untuk sembuh menurut ketiga perawat ners yang kita wawancara adalah selain sehat jasmani, pasien juga harus sehat rohani atau psikologinya melalui perilaku caring yang di berikan perawat kepada pasien. Sehingga jika pasien sering mendapat stimulus yang positf maka proses penyembuhan akan berjalan lancar dan cepat, tapi jika stimulus negatif yang diterima maka akan menghambat penyembuhan. Hal ini dapat diperoleh  melalui komunikasi antara perawat dan pasien.



BAB IV

PENUTUP

4.1    Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.    Caring adalah peduli terhadap orang lain, keluhan orang lain, dan kebutuhan orang lain, sebagaimana peduli dan perhatian juga dilakukan oleh ketiga perawat profesi pada saat memberikan asuhan keperawatan di klinik TB-MRD RSUP Kariadi.
2.    Caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan, seperti apa yang diungkapkan oleh Ns. UP, S.Kp.
3.    Pendekatan-pendekatan dinamis seperti identifikasi, edukasi, dan motivasi dilakukan oleh ketiga perawat profesi di klinik TB-MRD RSUP Kariadi dalam rangka memberikan intervensi dan tindakan keperawatan berbasis caring.
4.    Tindakan caring yang dilakukan perawat profesi di klinik TB-MRD RSUP Kariadi untuk tetap bisa memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh antara lain edukasi, motivasi, konsultasi, dan menghadirkan peran educator.
5.    Melalui perilaku caring yang diberikan perawat dengan disertai stimulus-stimulus positif seperti menyapa pasien dengan namanya, memberikan senyuman saat caring, dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.

4.2    Saran

Dalam penyusunan kurikulum pendidikan perawatan seyogyanya memasukkan unsur caring dalam setiap mata kuliah. Penekanan pada humansitik, kepedulian, dan kepercayaan, komitmen membantu orang lain dan berbagai unsur caring yang lain harus sudah dibangun sejak perawat dalam masa pendidikan. Selain itu perlu dilakukan sosialisasi konsep caring pada perawat guna memberikan pemahaman yang mendalam tentang apa yang harus dilakukan perawat agar bersikap caring dalam setiap kontak dengan pasien. Indikator-indikator caring harus dikenal dan diaplikasikan dalam perawatan serta dievaluasi secara terus meneru




LAMPIRAN


Perawat 1
Kelompok 6    : AsalamualaikumWr. Wb
Ns.NQ,s.Kp    : WaalaikumsalamWr.Wb. Ada yang bias saya bantu ?
Kelompok 6    : Begini pak, kami dapat tugas dari dosen untuk mewancarai 3 Ners tentang caring,   apakah bapak bisa membantu ?
Ns.NQ ,s.Kp   : oh.... bisa dik dengan senang hati, tolong tunggu saya di ruang tamu ? ruang tamunya ada di sana (sambil menunjuk keruang tamu) 
Kelompok 6    : iya pak kami tunggu
Beberapa menit kemudian
Ns.NQ,s.Kp    :maaf ya dik saya lama, mau wawancara bagaimana dik ?
Kelompok 6    :Begini Pak, sebelumnya saya ingin berkenalan dengan bapak, nama bapak siapa ya ?
Ns.NQ,s.Kp    : Nama saya N Q
Kelompok 6    :Bapak bekerja di rumah sakit ini sudah berapa lama ?
Ns.NQ,s.Kp    :Kurang lebih sepuluh tahun
Kelompok 6    :  menurut bapak apa itu keperawatan ?
Ns.NQ,s.Kp    : Menurut saya Keperawatan itu merupakan pekerjaan mulia yang dekatdengan surga karena perawat yang di hadap ia dalah orang-orang yang sakit,susah dan sedih jadi apabila perawatnya melayani dengan ikhlas saya yakin hadiah yang tepat adalah surga
Kelompok 6    :menurut bapak apa itu caring ?
Ns.NQ,s.Kp    :menurut saya caring adalah peduli terhadap masalah pasien, peduli terhadap kebutuhan pasien,dan peduli terhadap keluhan pasien.
Kelompok 6    :Bagaimana cara bapak menghadapi karakter pasien yang berbeda-beda dalam menerima saran dari seorang perawat ?
Ns.NQ,s.Kp    :dengan menjalin trust (kepercayaan) pada pasien sehingga pasien mau mengungkapkan segala masalah yang sedang di hadapinya
Kelompok 6    :Bagaimana cara menyikapi citra perawat yang di anggap sebagai pembantu dokter oleh masyarakat ?
Ns.NQ,s.Kp    :saya tidak memikirkan anggapan masyarakat tentang perawat, tetapi yang saya pikirkan adalah bagaimana cara melayani pasien dengan baik, seandainya masyarakat tahu bahwa ketika mereka menginap di rumah sakit yang di butuhkan adalah caring bukan curing dari seorang dokter.bahwa jika tidak ada perawat maka tidak akan ada pelayanan perawatan di masyarakat.
Kelompok 6    :Apakah tantangan terbesar menjadi perawat ?
Ns.NQ,s.Kp    :Tantangan terbesar menjadi perawat adalah belajar ikhlas, menstabilkan atau menjaga mutu pada seluruh pasien yang ada dan cara menginformasikan berita buruk pada pasien. Melayani pasien, terkadang terasa berat walaupun itu merupakan bagian dari profesi perawat, seperti di bangunkan pada saat tengah malam ,memandikan pasien, membuang urine dari pasien dan lain-lain.
Kelompok 6    : Bagaimana menanggapi citra perawat yang dianggap perawat galak atau judes?
Ns.NQ,s.Kp    :Citra seorang perawat di mata masyarakat itu buruk.Ini berawal dari perawat yang judes dan galak itu paradigma perawat yang dulu dari didikan dari jaman Belanda, yang di didik keras sehingga Mind set masyarakat harus di ubah. Meraka yang bilang perawat judes itu mereka yang belum merasakan perawatan itu sendiri atau mungkin mereka mendapatkan perlakuan dari perawat yang judes itu yang menyebabkan Citra perawat di mata masyarakat buruk.
Kelompok 6    : Bagaimana cara menerapkan holistik dalam keperawatan ?
Ns.NQ,s.Kp    :Yang jelas setiap keluhan yang di respons dengan cepat  maka akan menimbulkan persepsi yang baik terhadap pasien tersebut kemudian kita menerima keluhan pasien, mengerti yang pasien lakukan, yang jadi masalah adalah kebutuhan pasien, pasien butuh sesuatu tidak respons malah di marahi gitu sehingga menimbulkan persepsi  di masyarakat itu perawat judes malaya kita merubah apapun yang diminta pasien kita berusaha memenuhi sepanjang itu tidak mengganggu kesehatan pasien.
Kelompok 6    : cara memotivasi pasien yang down ?
Ns.NQ,s.Kp    : pasien dikatakan dia down jika dia tidak mengetahui penyakitnya itu sendiri, jika dia tidak tahu penyakitnya maka yang dipikirkanya adalah penyakit kronis,menakutkan bahkan mengancam nyawa.sehinga dia down yang kita lakukan kita gali pengetahuan pasien tentang penyakitnya.setelah kita gali kita sampaikan informasi tentang penyakitnya setelah tahu penyakitnya kita beri edukasi tentang penyakitnya sehingga pasien tidak berpasrah diri.
Kelompok 6    :Bagaimana cara perawat menyampaikan berita buruk kepada pasien ?
Ns.NQ,s.Kp    :jika pasien belum siap dengan mendengar berita buruk maka bias diwakilkan melalui penanggung jawab pasien yaitu keluarga, Kalau sudah siap maka informasi dapat di sampaika secara langsung.
Kelompok 6    :Terima kasih pak atas waktu yang di berikan untuk wawancara ini.
Ns.NQ,s.Kp    : Sama-sama

Perawat 2
Kelompok 6    : sebelum wawancara kami ingin berkenalan dengan mbak ,namanya siapa mbak?
Ns.U P,S.Kp   : perkenalkan nama saya UP, saya bekerja disini baru 1,5 tahun .
Kelompok 6    :Apa motivasi mbak menjadi seorang perawat ?
Ns.U P,S.Kp   : Termotivasi dari pekerjaan rumah sakit dan dari kecil saya sudah banyak berhubugan dengan sesuatu yang bebau kesehatan entah itu rumah sakit,puskesmas,dll, sebenernya dulu saya tidak berminat untuk menjadi perawat tapi setelah bertemu pasien,memberi rasa empati dan care terhadap pasien  lama –lama saya suka menjadi perawat.
Kelompok 6    :menurut pandangan mbak perawat itu seperti apa ?
Ns.U P,S.Kp   :profesi yang menurut saya sangat dibutuhkan oleh para pasien .
Kelompok 6    : Menurut mbak  apa itu caring ?
Ns.U P,S.Kp   : caring ittuu…. Mengenal pasien ,mengenal sakitnya ,mengenal kebutuhan,berupa empati dan memenuhi keseluruhan kebutuhan pasien .
Kelompok 6    :oh begitu,mbak prinsip caring itu seperti apa ya ?
Ns.U P,S.Kp   : prinsip caring itu memahami pasien dari keseluruhan dan menemukan masalah setiap pasien .
Kelompok 6    :apa hambatan mbak selama menjadi perawat?
Ns.U P,S.Kp   :ya itu pasieen yang ngeyel .
Kelompok 6    : Bagaimana mbak menyikapi pasien itu agar tidak ngeyel terhadap perawatan yang diberikan?
Ns.U P,S.Kp   : pasien terlebih dahulu diberi edukasi dan diberi informasi tentang penyakitnya .
Kelompok 6    :Bagaimana mbak menyikapi saat sedang capek tapi harus memberi caring ?
Ns.U P,S.Kp   : saya mecoba memotivasi diri dan menanggap pasien sebagai saudara.
Kelompok 6    :apa keputusan mbak yang paling berat saat melakukan caring ?
Ns.U P,S.Kp   : saat tidak ada atasan yang dapat menentukan keputusannya
Kelompok 6    :terus mbak mengambil keputusannya gimana saat tidak ada atasan ?
Ns.U P,S.Kp   :ya saya mendiskusikan dengan sesama teman untuk mengambil keputusan .
Kelompok 6    :terimakasih ya mbak atas waktunya ^_^.
Ns.U P,S.Kp   :iya dek sama-sama ^_^

Perawat 3
Ns.T,S.Kp         :” Bagaimana dek? Mau wawancara apa?”
Kelompok 6      : “Begini bu kami ingin mewawancarai tentang caring . Bagaimana caring menurut ibu ?”
Ns.T,S.Kp         : “caring itu sebuah kepedulian terhadap orang lain, memiliki rasa empati, serta mau  membantu seseorang dengan ikhlas. “         
Kelompok 6      : “menurut ibu apa itu yang dimaksud prinsip caring ?”
Ns.T,S.Kp      
BeWBz4rCcAAvrOP.jpg




MAKALAH KEPERAWATAN HOLISTIK
WAWANCARA 3 PERAWAT PROFESI
“PERILAKU CARING

Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Holistik
Dosen Pembimbing: Ns. Sarah Ulliya

Disusun oleh:
1.      Arintan Nur Safitri                (22020114120046)
2.      Avinda Deviana                    (22020114120028)
3.      Eva Handayani                      (22020114130071)
4.      Fajar Sigit Prihantoro            (22020114120068)
5.      Khirza Maulida Fitri              (22020114130134)
6.      Pramastuti Budi Yuanti        (22020114130072)

FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEPERAWATAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014

KATA PENGANTAR


Pujisyukurpenulisucapkankehadirat TuhanYang Maha Esa Karena hanya atas berkat dan rahmat yang dilimpahkan-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan Holistik. Sebagai wujud dari pengabdian kami kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus bentuk realisasi dari tanggung jawab dan kewajiban kami selama mengikuti mata kuliah ini. Makalah yang berjudul WAWANCARA 3 PERAWAT PROFESI “PERILAKU CARINGberisi materi pembahasan yang memaparkan tentang perilaku caring yang diterapkan oleh 3 perawat profesi dan bagaimana kaitannya dengan teori-teori caring yang ada. Sehingga makalah dapat digunakan untuk penyajian diskusi dan/atau untuk keperluan lainnya.
Oleh karena itu, dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan yang jauh dari sempurna dan penulis berharapa dan ya kritik dan saran dari semua pihak yang nantinya di pergunakan untuk meyempurnakan makalah ini.
Selama penyusunan makalah, penulis telah banyak memperoleh bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih pada:
1.    Ibu Sarah Ulliya, selaku Dosen pembimbing mata kuliah keperawatan holistik yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk yang berguna dalam  penyusunan makalah ini.
2.    Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam penyusunan makalah ini.

Semarang, 8 Oktober 2014


Penyusun

DAFTAR ISI




BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Caring merupakan proses interpersonal yaitu hubungan yang terjadi antara perawat dengan klien yang merupakan bagian dari intervensi yang membantu dalam pemenuhan kebutuhan manusia dalam meningkatkan kesehatan, mengembalikan klien pada kondisi sehat dan mencegah kesakitan (Watson 1979, dikutip dari Potter & Perry, 2005). 
Caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan. Leinenger (1984) menyatakan care berasal dari dalam hati dan utama dalam keperawatan yang dimanifestasikan melalui caring yang merupakan ciri yang dominan, khusus, serta tidak terpisahkan dalam keperawatan. Leinenger mengatakan, tidak ada cure tanpa caring, tapi dapat ada caring tanpa curing. Ia menekankan bahwa human caring merupakan fenomena yang universal, memiliki ekspresi, proses dan pola yang berbeda antar budaya (Synder, 2011).
Konsep caring pun mengalami perkembangan yang pesat. Beberapa tokoh keperawatan seperti Watson (1979), Leininger (1984), Benner (1989), menempatkan caring sebagai dasar dalam praktek keperawatan, jika perawat sebagai suatu kelompok profesi yang bekerja selama 24 jam di rumah sakit lebih menekankan caring sebagai pusat dan aspek yang dominan maka perawat dapat membantu pasien meningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit dengan memandang klien secara komprehensif (Potter & Perry, 2005).
Caring juga menekankan harga diri individu, artinya dalam melakukan praktik keperawatan, perawat senantiasa selalu menghargai klien dengan menerima kelebihan maupun kekurangan klien. Watson juga mengemukakan bahwa respon setiap individu terhadap suatu masalah kesehatan unik, artinya perawat harus mampu memahami setiap respon yang berbeda dari klien terhadap penderitaan yang dialaminya dan memberikan pelayanan kesehatan

yang tepat dalam setiap respon yang berbeda Watson (1979, dikutip dari Sartika, 2011). Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik, psikologis, spiritual, dan sosial (Tomey &Alligood, 2006). Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping klien, semangat caring harus tumbuh dalam diri setiap perawat dan berasal dari hati perawat yang terdalam. Cooper (1999 dikutip dari Dwiyanti, 2010).
Perilaku caring sangat penting karena akan memberikan kepuasan pada klien sehingga diharapkan setiap perawat memahami konsep caring dan mengaplikasikan dalam asuhan keperawatan. Selain itu perilaku caring dapat mempengaruhi kualitas layanan kesehatan dan kepuasan klien di rumah sakit, dimana kualitas pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang dapat meningkatkan kepuasan pasien dan mutu pelayanan (Saputri, 2010).
Berdasarkan uraian diatas, mengingat tugas dan peran perawat yang sangat hakiki sendiri maka penyusun makalah ingin mengetahui dan meneliti bagaimana perilaku caring yang diterapkan oleh perawat profesi di RSUP Kariadi.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
1.    Untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan holistik.
2.    Untuk mengetahui caring dan perilaku caring yang diterapkan oleh perawat profesi di RSUP Kariadi.
3.    Untuk memberikan intervensi kepada penulis makalah tentang keprofesian keperawatan.



BAB II

HASIL WAWANCARA

2.1    Hasil Wawancara 1

Wawancara yang dilakukan di RSUP Kariadi dilakukan pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 sekitar pukul 13.22 di bagian klinik TB-MRD. Wawancara pertama dilakukan dengan Ns. NQ, S.Kp. Ns. NQ, S.Kp. berusia 31 tahun dan bekerja menjadi perawat sudah sejak 10 tahun yang lalu. Beliau memiliki pandangan bahwa perawat adalah pekerjaan yang selalu berhadapan dengan orang-orang yang sedih, penuh masalah, dan segala macam keluhan dari pasien. Selain itu perawat adalah profesi yang dekat dengan surga apabila dijalani dengan ikhlas karena tindakan caring dan asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien merupakan suatu tindakan yang mulia.
Beliau sadar bahwa profesi perawat memang sering dipandang masyarakat sebagai profesi pembantu dokter namun beliau menghiraukan semua itu karena perawat adalah profesi yang dengan tindakan dan intervensi yang diberikan dapat menyelamatkan nyawa-nyawa orang di dunia.
Saudara NQ adalah seorang alumni ners dari Universitas Muhammadiyah Semarang pada tahun 2004 berpendapat bahwa caring adalah peduli terhadap orang lain, keluhan orang lain, dan kebutuhan orang lain. Dalam memberikan perilaku caring tidak seutuhnya berjalan mulus karena pasien ataupun klien yang dihadapi memiliki karakter yang berbeda-beda. Membangun sebuah kepercayaan “trust” antara perawat dengan klien adalah langkah pertama untuk menghadapi masalah dalam memberikan caring kepada pasien.
Selain itu hal yang tidak boleh dilupakan dari seorang perawat adalah menjalin komunikasi dengan pasien. Misalnya memberi tahu tentang perkembangan kondisi pasien, baik itu kondisi buruk maupun kondisi baik. Namun penyampaian kondisi pasien tersebut harus memperhatikan kesiapan pasien untuk menerima informasi tentang kondisi kesahatan yang sebenarnya. Apabila pasien tersebut memiliki kondisi yang tidak memungkinkan untuk menerima kabar tentang kondisinya maka sebaiknya informasi tersebut disampaikan kepada orang yang bertanggung jawab kepada pasien tersebut misalnya, apabila pasien tersebut anak-anak maka informasi tentang keadaannya di sampaikan kepada orang tuannya begitupun sebaliknya. Jadi menurut Perawat NQ prinsip utama caring adalah memberikan tindakan kepedulian, komunikasi dengan pasien, dan jujur atas keadaan pasien pada waktu yang tepat.
Beliau menerapkan beberapa perilaku saat caring antara lain memberi edukasi mengenai penyakit yang diderita pasien, memberikan motivasi kepada pasien mengenai penyakitnya, dan tetap mengontrol kondisi pasien. Selain itu saat Beliau sedang lelah dan emosi Beliau tidak akan memberikan tindakan caring namun mengalihkan tugasnya ke perawat yang lain.
Perawat kelahiran Grobogan, 22 Juli 1982 ini selalu berusaha untuk merespon keluhan pasien secara cepat. Dengan begitu sebagai perawat akan merasa puas atas tindakan yang diberikan dan bisa mendapat feedback positif dari pasien. Beliau mengaku hal terberat saat menjadi perawat adalah saat jaga malam. Karena saat jaga malam, beliau harus lebih waspada atas hal apa yang mungkin terjadi.

2.2    Hasil Wawancara 2

Wawancara kedua dilaksanakan di ruang TB-MRD RSUP Kariadi pada hari Kamis, 9 Oktober 2014  pukul 13.42 bersama Ns. UP, S.Kp. Ns. UP, S.Kp adalah seorang perawat profesi yang bekerja sejak satu setengah tahun yang lalu. Passionnya di dunia kesehatan sejak duduk di bangku SD telah membawanya pada profesi perawat. Profesi yang menurutnya sangat dibutuhkan orang dalam tanda kutip orang yang dalam kondisi sakit, kesusahan, dan membutuhkan bantuan. Prinsip dalam keperawatan menurutnya adalah caring.
Perawat alumni UGM ini mengungkapkan perilaku caring adalah mengenal pasien secara menyeluruh. Ada beberapa tahap yang dilakukan saat caring. Yang pertama adalah tahap perkenalan dengan pasien, seorang perawat bisa memberikan intervensi dan mengidentifikasi pasien. Selanjutnya dari pengidentifikasian tersebut bisa menimbulkan jalinan komunikasi antara pasien dengan perawat. Perawat juga merupakan mitra kerja dokter, selain komunikasi dengan pasien juga membutuhkan komunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya, antara lain dokter, ahli gizi, dan lain-lain.
Perawat UP selalu menjalin mitra kerja yang baik dengan tenaga-tenaga kesehatan lain yang bersangkutan. Misalnya dalam menyampaikan hasil diagnosa merupakan kewenangan dokter maka hal tersebut akan ia serahkan kepada dokter. Beliau juga akan menyerahkan dan membagi hasil pemeriksaan ke ahli gizi dengan keperluan untuk mengatur asupan gizi pasien.
Prinsip caring yang beliau terapkan selalu mengikuti paradigma keperawatan yang berkembang di masyarakat. Prinsip yang saat ini Beliau terapkan adalah intervensi tindakan keperawatan secara holistic care. Tindakan holistic care yang diterapkan Ns. UP antara lain edukasi, konsultasi, dan menghadirkan peran educator. Menghadirkan peran educator adalah menghadirkan orang yang pernah menderita penyakit yang sama dengan pasien yang sedang ditangani namun sudah sembuh sembuh, misalkan dalam bidangnya menghadirkan pasien TB-MRD guna memotivasi pasien yang sedang mengidap penyakit TB-MRD. Kenapa holistic care? Karena bagi perawat asal jogja ini perawatan yang diberikan secara menyeluruh adalah intervensi yang tepat. Selain itu menurutnya holistic care merupakan paradigma moderen yang lebih baik diterapkan perawat masa kini.

2.3    Hasil Wawancara 3

Wawancara ketiga masih dilakukan di ruang TB-MRD RSUP Kariadi pada hari Kamis, 9 Oktober 2014 pukul 14.33 dilakukan bersama Ns. T, S.Kp. yang sudah berprofesi sebagi perawat sejak tahun 1997. Alasan utama beliau menjadi perawat karena kecintaannya Beliau sejak kecil dengan profesi perawat. Sehingga hal tersebut membuatnya full heart di pekerjaannya.
Beliau mengutarakan perilaku caring adalah peduli terhadap orang lain, memiliki rasa empati, serta mau membantu seseorang dengan ikhlas. Prinsip caring yang diterapkan Ns. T yaitu memberikan aura-aura positif kepada pasien supaya pasien lekas sembuh, seperti saat menghadapi pasien harus dengan wajah yang gembira, dan tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang sedang di hadapinya.
Baginya perawat adalah profesi yang sangat ia cintai. Karena dari cinta yang ia bangun dalam dirinya membuatnya ikhlas dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Beliau pun juga sempat berpesan kepada kami, kalau kami belum fullheart di keperawatan lebih baik tidak dilanjutkan karena profesi perawat membutuhkan keikhlasan agar dapat memberikan tindakan dan intervensi yang tepat dan cepat.
Perawat asal Surabaya ini selalu melakukan pendekatan dengan pasien namun masih dengan menggunakan paradigma keperawatan jaman Belanda, yaitu dengan memberikan ketegasan pada saat memberikan perilaku caring. Selain itu Beliau selalu melakukan komunikasi dengan pasien supaya pasien bisa memberikan kepercayaannya kepada perawat


BAB III

PEMBAHASAN

3.1     Analisis Hasil Wawancara Terkait Beberapa Teori

Menurut Potter & Perry (2005), sebuah keahlian yang dimiliki untuk mengabdi kepada orang lain dengan menunjukkan rasa perhatian dan peduli dikenal dengan istilah caring. Hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Ns. NQ, S.Kp. bahwa caring adalah peduli terhadap orang lain, keluhan orang lain, dan kebutuhan orang lain. Perawat NQ melakukan intervensi dan tindakan dengan ikhlas sebagai wujud dedikasi Beliau. Selain itu, caring mempengaruhi cara berpikir seseorang, perasaan dan perbuatan seseorang. Caring juga mempelajari berbagai macam filosofi dan etis perspektif.
Sedangkan menurut Sartika & Nanda (2011), caring diartikan sebagai perilaku yang dilakukan perawat dengan pendekatan dinamis untuk meningkatkan tingkat caritas kepada klien yang merupakan pusat pada praktik keperawatan. Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan.
Perawat NQ mengungkapkan bentuk kepedulian dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah pendekatan yang dinamis. Pendekatan-pendekatan dinamis itu antara lain membangun komunikasi dengan pasien agar pasien bisa percaya akan asuhan keperawatan yang diberikannya. Motivasi, edukasi, dan kontrol juga senantiasa perawat NQ berikan sebagai upaya perilaku caring yang diberikannya bagi pasien-pasien di klinik TB-MRD. Perilaku caring yang juga menjadi perhatiannya adalah merespon keluhan pasien secara cepat.
Hal yang sama juga diberikan oleh Ns. UP, S.Kp. sebagai narasumber kedua terkait caring. Pendekatan-pendekatan dinamis yang Beliau lakukan antara lain:
1.    Memberikan intervensi dan mengidentifikasi pasien
2.    Menjalin komunikasi dengan pasien
3.    Menjalin mitra kerja yang baik dengan dokter, ahli gizi, dan staff ahli kesehatan lainnya.
Teori Transpersonal Watson tentang caring (1979) sebagai model holistic keperawatan yang menyebutkan bahwa tujuan caring adalah untuk mendukung proses penyembuhan secara total (Hoover, 2002). Teori menggambarkan suatu kesadaran perawat untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan menjadi perawat, sakit dan caring, serta pulih. Teori caring transpersonal menolak pelayanan kesehatan dan tempat pelayanan yang berorientasi penyakit sebelum diobati (Watson, 1988).
Teori Transpersonal Watson tentang caring diterapkan pula oleh perawat UP. Perawat asal Jogja menerapkan caring dengan asuhan keperawatan yang holistic atau menyeluruh. Tindakan yang dilakukannya untuk tetap bisa memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh antara lain edukasi, motivasi, konsultasi, dan menghadirkan peran educator. Dengan begitu Ns. Utami tidak hanya mengobati pasien dalam hal penyakitnya saja khususnya bagi pasien yang ada di kliniknya yaitu klinik TB-MRD. Beliau yakin bahwa orang-orang yang mengidap penyakit TB-MRD tidak hanya membutuhkan pengobatan untuk aspek biologisnya saja, tetapi juga aspek psikologi, spiritual, dan kultural.
Aplikasi Model Caring Watson di ungkapkan dalam beberapa cara antara lain:
1.        Melatih rasa cinta dan kepedulian
2.        Menciptakan kepercayaan-harapan
3.        Meningktakan rasa sensitive terhadap diri sendiri dan sesame
4.        Membangun pertolongankepercayaan, hubungan manusia
5.        Mengungkapkan perasaan positif dan negative
6.        Menggunakan proses caring yang kreatif dalam penyelesaian masalah
7.        Mempromosikan transpersonal belajar-mengajar
8.        Mengutamakan aspek spiritual dan keyakinan utuk penyembuhan
9.        Menyediakan caring berdasarkan kebutuhan dasar manusia
10.    Menciptakan lingkungan yang menyembuhkan (terapeutik).
Beberapa hal di atas juga diterapkan oleh Ns. T seperti dengan memberikan aura-aura positif kepada pasien supaya pasien lekas sembuh, seperti saat menghadapi pasien harus dengan wajah yang gembira, terus tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang sedang di hadapinya. Beliau juga memberikan beberapa aspek saat caring namun dengan paradigma yang berbeda dengan perawat lainnya. Ns. T lebih memilih menggunakan paradigma keperawatan jaman Belanda.
Ada beberapa definisi caring yang diungkapkan para ahli keperawatan: Watson (1979) yang terkenal dengan Theory of Human Caring, mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh.
Kesanggupan pasien untuk sembuh menurut ketiga perawat ners yang kita wawancara adalah selain sehat jasmani, pasien juga harus sehat rohani atau psikologinya melalui perilaku caring yang di berikan perawat kepada pasien. Sehingga jika pasien sering mendapat stimulus yang positf maka proses penyembuhan akan berjalan lancar dan cepat, tapi jika stimulus negatif yang diterima maka akan menghambat penyembuhan. Hal ini dapat diperoleh  melalui komunikasi antara perawat dan pasien.



BAB IV

PENUTUP

4.1    Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.    Caring adalah peduli terhadap orang lain, keluhan orang lain, dan kebutuhan orang lain, sebagaimana peduli dan perhatian juga dilakukan oleh ketiga perawat profesi pada saat memberikan asuhan keperawatan di klinik TB-MRD RSUP Kariadi.
2.    Caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan, seperti apa yang diungkapkan oleh Ns. UP, S.Kp.
3.    Pendekatan-pendekatan dinamis seperti identifikasi, edukasi, dan motivasi dilakukan oleh ketiga perawat profesi di klinik TB-MRD RSUP Kariadi dalam rangka memberikan intervensi dan tindakan keperawatan berbasis caring.
4.    Tindakan caring yang dilakukan perawat profesi di klinik TB-MRD RSUP Kariadi untuk tetap bisa memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh antara lain edukasi, motivasi, konsultasi, dan menghadirkan peran educator.
5.    Melalui perilaku caring yang diberikan perawat dengan disertai stimulus-stimulus positif seperti menyapa pasien dengan namanya, memberikan senyuman saat caring, dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.

4.2    Saran

Dalam penyusunan kurikulum pendidikan perawatan seyogyanya memasukkan unsur caring dalam setiap mata kuliah. Penekanan pada humansitik, kepedulian, dan kepercayaan, komitmen membantu orang lain dan berbagai unsur caring yang lain harus sudah dibangun sejak perawat dalam masa pendidikan. Selain itu perlu dilakukan sosialisasi konsep caring pada perawat guna memberikan pemahaman yang mendalam tentang apa yang harus dilakukan perawat agar bersikap caring dalam setiap kontak dengan pasien. Indikator-indikator caring harus dikenal dan diaplikasikan dalam perawatan serta dievaluasi secara terus meneru


LAMPIRAN


Perawat 1
Kelompok 6    : AsalamualaikumWr. Wb
Ns.NQ,s.Kp    : WaalaikumsalamWr.Wb. Ada yang bias saya bantu ?
Kelompok 6    : Begini pak, kami dapat tugas dari dosen untuk mewancarai 3 Ners tentang caring,   apakah bapak bisa membantu ?
Ns.NQ ,s.Kp   : oh.... bisa dik dengan senang hati, tolong tunggu saya di ruang tamu ? ruang tamunya ada di sana (sambil menunjuk keruang tamu) 
Kelompok 6    : iya pak kami tunggu
Beberapa menit kemudian
Ns.NQ,s.Kp    :maaf ya dik saya lama, mau wawancara bagaimana dik ?
Kelompok 6    :Begini Pak, sebelumnya saya ingin berkenalan dengan bapak, nama bapak siapa ya ?
Ns.NQ,s.Kp    : Nama saya N Q
Kelompok 6    :Bapak bekerja di rumah sakit ini sudah berapa lama ?
Ns.NQ,s.Kp    :Kurang lebih sepuluh tahun
Kelompok 6    :  menurut bapak apa itu keperawatan ?
Ns.NQ,s.Kp    : Menurut saya Keperawatan itu merupakan pekerjaan mulia yang dekatdengan surga karena perawat yang di hadap ia dalah orang-orang yang sakit,susah dan sedih jadi apabila perawatnya melayani dengan ikhlas saya yakin hadiah yang tepat adalah surga
Kelompok 6    :menurut bapak apa itu caring ?
Ns.NQ,s.Kp    :menurut saya caring adalah peduli terhadap masalah pasien, peduli terhadap kebutuhan pasien,dan peduli terhadap keluhan pasien.
Kelompok 6    :Bagaimana cara bapak menghadapi karakter pasien yang berbeda-beda dalam menerima saran dari seorang perawat ?
Ns.NQ,s.Kp    :dengan menjalin trust (kepercayaan) pada pasien sehingga pasien mau mengungkapkan segala masalah yang sedang di hadapinya
Kelompok 6    :Bagaimana cara menyikapi citra perawat yang di anggap sebagai pembantu dokter oleh masyarakat ?
Ns.NQ,s.Kp    :saya tidak memikirkan anggapan masyarakat tentang perawat, tetapi yang saya pikirkan adalah bagaimana cara melayani pasien dengan baik, seandainya masyarakat tahu bahwa ketika mereka menginap di rumah sakit yang di butuhkan adalah caring bukan curing dari seorang dokter.bahwa jika tidak ada perawat maka tidak akan ada pelayanan perawatan di masyarakat.
Kelompok 6    :Apakah tantangan terbesar menjadi perawat ?
Ns.NQ,s.Kp    :Tantangan terbesar menjadi perawat adalah belajar ikhlas, menstabilkan atau menjaga mutu pada seluruh pasien yang ada dan cara menginformasikan berita buruk pada pasien. Melayani pasien, terkadang terasa berat walaupun itu merupakan bagian dari profesi perawat, seperti di bangunkan pada saat tengah malam ,memandikan pasien, membuang urine dari pasien dan lain-lain.
Kelompok 6    : Bagaimana menanggapi citra perawat yang dianggap perawat galak atau judes?
Ns.NQ,s.Kp    :Citra seorang perawat di mata masyarakat itu buruk.Ini berawal dari perawat yang judes dan galak itu paradigma perawat yang dulu dari didikan dari jaman Belanda, yang di didik keras sehingga Mind set masyarakat harus di ubah. Meraka yang bilang perawat judes itu mereka yang belum merasakan perawatan itu sendiri atau mungkin mereka mendapatkan perlakuan dari perawat yang judes itu yang menyebabkan Citra perawat di mata masyarakat buruk.
Kelompok 6    : Bagaimana cara menerapkan holistik dalam keperawatan ?
Ns.NQ,s.Kp    :Yang jelas setiap keluhan yang di respons dengan cepat  maka akan menimbulkan persepsi yang baik terhadap pasien tersebut kemudian kita menerima keluhan pasien, mengerti yang pasien lakukan, yang jadi masalah adalah kebutuhan pasien, pasien butuh sesuatu tidak respons malah di marahi gitu sehingga menimbulkan persepsi  di masyarakat itu perawat judes malaya kita merubah apapun yang diminta pasien kita berusaha memenuhi sepanjang itu tidak mengganggu kesehatan pasien.
Kelompok 6    : cara memotivasi pasien yang down ?
Ns.NQ,s.Kp    : pasien dikatakan dia down jika dia tidak mengetahui penyakitnya itu sendiri, jika dia tidak tahu penyakitnya maka yang dipikirkanya adalah penyakit kronis,menakutkan bahkan mengancam nyawa.sehinga dia down yang kita lakukan kita gali pengetahuan pasien tentang penyakitnya.setelah kita gali kita sampaikan informasi tentang penyakitnya setelah tahu penyakitnya kita beri edukasi tentang penyakitnya sehingga pasien tidak berpasrah diri.
Kelompok 6    :Bagaimana cara perawat menyampaikan berita buruk kepada pasien ?
Ns.NQ,s.Kp    :jika pasien belum siap dengan mendengar berita buruk maka bias diwakilkan melalui penanggung jawab pasien yaitu keluarga, Kalau sudah siap maka informasi dapat di sampaika secara langsung.
Kelompok 6    :Terima kasih pak atas waktu yang di berikan untuk wawancara ini.
Ns.NQ,s.Kp    : Sama-sama

Perawat 2
Kelompok 6    : sebelum wawancara kami ingin berkenalan dengan mbak ,namanya siapa mbak?
Ns.U P,S.Kp   : perkenalkan nama saya UP, saya bekerja disini baru 1,5 tahun .
Kelompok 6    :Apa motivasi mbak menjadi seorang perawat ?
Ns.U P,S.Kp   : Termotivasi dari pekerjaan rumah sakit dan dari kecil saya sudah banyak berhubugan dengan sesuatu yang bebau kesehatan entah itu rumah sakit,puskesmas,dll, sebenernya dulu saya tidak berminat untuk menjadi perawat tapi setelah bertemu pasien,memberi rasa empati dan care terhadap pasien  lama –lama saya suka menjadi perawat.
Kelompok 6    :menurut pandangan mbak perawat itu seperti apa ?
Ns.U P,S.Kp   :profesi yang menurut saya sangat dibutuhkan oleh para pasien .
Kelompok 6    : Menurut mbak  apa itu caring ?
Ns.U P,S.Kp   : caring ittuu…. Mengenal pasien ,mengenal sakitnya ,mengenal kebutuhan,berupa empati dan memenuhi keseluruhan kebutuhan pasien .
Kelompok 6    :oh begitu,mbak prinsip caring itu seperti apa ya ?
Ns.U P,S.Kp   : prinsip caring itu memahami pasien dari keseluruhan dan menemukan masalah setiap pasien .
Kelompok 6    :apa hambatan mbak selama menjadi perawat?
Ns.U P,S.Kp   :ya itu pasieen yang ngeyel .
Kelompok 6    : Bagaimana mbak menyikapi pasien itu agar tidak ngeyel terhadap perawatan yang diberikan?
Ns.U P,S.Kp   : pasien terlebih dahulu diberi edukasi dan diberi informasi tentang penyakitnya .
Kelompok 6    :Bagaimana mbak menyikapi saat sedang capek tapi harus memberi caring ?
Ns.U P,S.Kp   : saya mecoba memotivasi diri dan menanggap pasien sebagai saudara.
Kelompok 6    :apa keputusan mbak yang paling berat saat melakukan caring ?
Ns.U P,S.Kp   : saat tidak ada atasan yang dapat menentukan keputusannya
Kelompok 6    :terus mbak mengambil keputusannya gimana saat tidak ada atasan ?
Ns.U P,S.Kp   :ya saya mendiskusikan dengan sesama teman untuk mengambil keputusan .
Kelompok 6    :terimakasih ya mbak atas waktunya ^_^.
Ns.U P,S.Kp   :iya dek sama-sama ^_^

Perawat 3
Ns.T,S.Kp         :” Bagaimana dek? Mau wawancara apa?”
Kelompok 6      : “Begini bu kami ingin mewawancarai tentang caring . Bagaimana caring menurut ibu ?”
Ns.T,S.Kp         : “caring itu sebuah kepedulian terhadap orang lain, memiliki rasa empati, serta mau  membantu seseorang dengan ikhlas. “         
Kelompok 6      : “menurut ibu apa itu yang dimaksud prinsip caring ?”
Ns.T,S.Kp         : “Prinsip caring yang saya terapkan dengan memberikan aura-aura positif kepada pasien supaya pasien lekas sembuh, seperti saat bertemu pasien harus dengan wajah yang gembira, terus tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang sedang di hadapinya. “
Kelompok 6      :”Bagaimana ibu menerapkan prinsip caring ?”
Ns.T,S.Kp         : “Saya menanamkannya dengan melakukan pendekatan dengan pasien namun masih dengan menggunakan paradigma keperawatan jaman dahulu yang memberi ketegasaan dengan pasien saat melakukan caring.”
Kelompok 6      : “Bagaimana cara ibu menghadapi karakter pasien yang berbeda-beda dalam  masukkan saran dari seorang perawat ?”
Ns.T,S.Kp         :” saya berusaha untuk melakukan komunikasi yang baik dengan pasien supaya pasien bisa memberikan kepercayaannya dan dapat menerima saran dari perawat”.
Kelompok 6      :”Apabila ibu capek tetapi ibu harus menanggani pasien  apa yang ibu lakukan ?”
Ns.T,S.Kp        :” saya harus dapat mengontrol emosi ketika sedang menanggani                             pasien.”
Kelompok 6    : “terimakasih atas penjelasaan yang ibu beri begitu membantu     kami dalam menyelesikan tugas ini  bu  ^_^”
Ns.T,S.             : “iya sama-sama dik ,hati-hati dijalan “





    : “Prinsip caring yang saya terapkan dengan memberikan aura-aura positif kepada pasien supaya pasien lekas sembuh, seperti saat bertemu pasien harus dengan wajah yang gembira, terus tidak menunjukkan masalah-masalah apa yang sedang di hadapinya. “
Kelompok 6      :”Bagaimana ibu menerapkan prinsip caring ?”
Ns.T,S.Kp         : “Saya menanamkannya dengan melakukan pendekatan dengan pasien namun masih dengan menggunakan paradigma keperawatan jaman dahulu yang memberi ketegasaan dengan pasien saat melakukan caring.”
Kelompok 6      : “Bagaimana cara ibu menghadapi karakter pasien yang berbeda-beda dalam  masukkan saran dari seorang perawat ?”
Ns.T,S.Kp         :” saya berusaha untuk melakukan komunikasi yang baik dengan pasien supaya pasien bisa memberikan kepercayaannya dan dapat menerima saran dari perawat”.
Kelompok 6      :”Apabila ibu capek tetapi ibu harus menanggani pasien  apa yang ibu lakukan ?”
Ns.T,S.Kp        :” saya harus dapat mengontrol emosi ketika sedang menanggani                             pasien.”
Kelompok 6    : “terimakasih atas penjelasaan yang ibu beri begitu membantu     kami dalam menyelesikan tugas ini  bu  ^_^”
Ns.T,S.             : “iya sama-sama dik ,hati-hati dijalan “